Arsip

Wawancara

Wawancara  yaitu pertemuan dua orang atau lebih yang berupa kegiatan tanya jawab dengan maksud untuk menggali informasi

Jenis-jenis Wawancara:

1. Wawancara Terstruktur

Wawancara yang dilaksanakan secara terencana dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

2. Wawancara Tidak Terstruktur

Wawancara yang tidak berpedoman pada daftar pertanyaan

3. Wawancara Terpimpin

Wawancara yang berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disiapkan.

4. Wawancara Bebas

Wawancara yang tidak berpedoman pada daftar pertanyaan

5. Wawancara Individual

Wawancara yang dilakukan oleh seorang pewawancara dengan seorang narasumber atau responden.

6. Wawancara kelompok

Wawancara yang dilakukan oleh seorang pewawancara dengan sekelompok/ sejumlah narasumber/ responden. (dalam waktu dan tempat yang sama)

7. Wawancara Konferensi

a.  Wawancara yang dilakukan oleh seorang pewawancara dengan sejumlah narasumber dalam satu tempat dan satu waktu secara bersamaan.

b. Wawancara yang dilakukan oleh sejumlah pewawancara dengan seorang narasumber dalam tempat dan waktu yang bersamaan.

8. Wawancara Terbuka

Wawancara berdasarkan pertanyaan yang tidak terbatas/ tidak terikat jawabannya.

9. Wawancara Tertutup

Wawancara berdasarkan pertanyaan yang terikat/ terbatas jawabannya.

Langkah-langkah wawancara:

  1. Menentukan topik wawancara.
  2. Menentukan narasumber/ responden.
  3. Menyusun daftar pertanyaan (dengan memperhatikan kelengkapan isi  (5W + 1H).
  4. Melakukan wawancara dengan bahasa yang santun, baik, dan benar.
  5. Mencatat pokok-pokok informasi  berdasarkan jawaban narasumber. (Dapat menggunakan alat perekam sebagai alat bantu).
  6. Menulis laporan hasil wawancara.

Contoh format Laporan Hasil Wawancara:

                          Laporan Hasil Wawancara

Topik                     : ……………………….

Narasumber       : …………………….(nama dan profil sekilas)

Waktu                   : ……………………….

Tempat                : ……………………….

Hasil wawancara

                                 Judul

Kalimat-kalimat pengantar sesuai topik

Pertanyaan 1

Jawaban

Pertanyaan 2

Jawaban

Dst.

Ragam Bahasa Jurnalistik Cetak dan Radio

Ragam Bahasa Jurnalistik Cetak

 Pengertian

Sebagai nomina kata ragam memiliki lima arti : tingkah, ulah; macam, jenis; lagu, musik, langgam; warna, corak; dan laras. Ragam yang berarti laras khusus dipakai dalam bahasa. Sebagai nomina kata laras memiliki dua arti : (tinggi rendah) nada; dan kesesuaian atau kesamaan (KBBI, 1990: 719-720)

Ragam bahasa oleh Nababan diartikan sebagai variasi bahasa, baik variasi bentuk maupun variasi maknanya. Poerwodarminto mengartikan ragam bahasa sebagai sedikit-sedikit yang terdapat dalam bahasa. Menurut Anton M. Moeliono, ragam bahasa sebagai variasi yang terdapat dalam bahasa. Menurut Slamet Soewandi, ragam bahasa adalah variasi (dalam) bahasa.

Sifat Umum Ragam Bahasa Jurnalistik

Perlu diketahui sebelumnya, bahwa yang membedakan ragam bahasa jurnalistik dengan ragam bahasa yang lain adalah dalam cara penggunaannya. Ragam bahasa jurnalistik digunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang dialami, diketahui, dan dipikirkan oleh sebagian besar orang ( Slamet Soewandi, 1996 ). Hal-hal itu berupa fakta ( berita ), pendapat (opini ), dan pemberitahuan.

Menurut H. Rosihan Anwar, sifat Ragam bahasa jurnalistik terdiri dari:

1. Menggunakan kalimat pendek

2.Menggunakakn bahasa biasa yang mudah dipahami orang

Bahasa adalah alat untuk menyampaikan cipta dan informasi. Bahasa diperlukan dalam komunikasi. Dalam suatu penulisan harus menggunakan bahasa yang betul-betul dapat dimengerti khalayak (audiens). Salah satunya penulis harus komunikatif.

3. Menggunakan bahasa sederhana dan jernih pengutaraannya

Khalayak media massa yaitu pembaca surat kabar, pendengar radio, penonton televisi terdiri dari aneka ragam manusia dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang berbeda-beda, dengan minat perhatian, daya tangkap, kebiasaan yang berbeda-beda pula. Maka penulis berusaha menulis sesederhana dan sejernih mungkin.

4. Menggunakan bahasa tanpa kalimat majemuk

Dengan menggunaan kalimat majemuk, pengutaraannya pikiran kita sering terpeleset menjadi berbelit-belit dan bertele-tele. Penulis sebaiknya menjauhkan diri dari kesibukan memakai kalimat majemuk karena bisa mengakibatkan tulisannya menjadi woolly alias tidak terang.

5.Mengunakan bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat pasif

Membuat berita menjadi hidup bergaya ialah sebuah persyaratan yang dituntut penulis atau wartawan. Pengunaan kalimat aktif lebih disukai jurnalistik daripada kalimat pasif karena dinggap lebih bergaya. Contoh: : Si Amat dipukul babak belur oleh si Polan”. Dari pada kalimat “ Si Polan memukul si Amat babak belur”.

6. Menggunakan bahasa padat dan kuat

Penulis atau wartawan muda seringkali suka terhanyut menulis dengan mengulangi makna yang sama dalam bebagai kata. Kata-kata yang dipakai seharusnya efisien dan seperlunya saja. kembang-kembang bahsa harus dihindarkan. Bahasa jurnalistik harus hemat dengan kata-kata.

7. Menggunakan bahasa positif, bukan bahasa negative

Penulis di dalam menulis, sedapat mungkin menulis dalam bentuk kalimat positif karena kalimat positif dianggap lebih sopan daripada kalimat negatif. Contoh: “ Wartawan Sondang Meliala tidak menghendaki penataran wartawan olahraga”. Dengan kalimat “ Wartawan Sondang Meliala menolak penataran wartawan olahraga”. Kalimat kedua lebih bersifat positif dibanding dengan perkataan “ tidak menghendaki”, karena “ tidak” bersifat negatif.

Menurut Slamet Soewandi, secara umum wacana dengan ragam bahasa jurnalistik memiliki ciri:

Lanjut membaca

KISI-KISI UN 2011-2012

Bagi rekan-rekan yang membutuhkan kisi-kisi Ujian Nasional (UN) 2011-2012 dapat anda download di link  dibawah ini,

download Kisi-Kisi UN SMP-SMA-MA-SMK 2011-2012

download Kisi-kisi UN SD-MI 2011-2012