<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>prastna</title>
	<atom:link href="http://prastna.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://prastna.wordpress.com</link>
	<description>Berbagi Bahasa dan Sastra Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Feb 2012 07:56:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='prastna.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>prastna</title>
		<link>http://prastna.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://prastna.wordpress.com/osd.xml" title="prastna" />
	<atom:link rel='hub' href='http://prastna.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>NOTULA</title>
		<link>http://prastna.wordpress.com/2012/02/12/notula-2/</link>
		<comments>http://prastna.wordpress.com/2012/02/12/notula-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Feb 2012 02:36:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prastna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebahasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesastraan]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[catatan hasil rapat]]></category>
		<category><![CDATA[catatan singkat]]></category>
		<category><![CDATA[contoh notula]]></category>
		<category><![CDATA[contoh notulen]]></category>
		<category><![CDATA[dokumen]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi notulen]]></category>
		<category><![CDATA[jenis notula]]></category>
		<category><![CDATA[jenis notulen]]></category>
		<category><![CDATA[macam notula]]></category>
		<category><![CDATA[macam-macam notula]]></category>
		<category><![CDATA[macam-macam notulen]]></category>
		<category><![CDATA[notula]]></category>
		<category><![CDATA[notula rapat]]></category>
		<category><![CDATA[notulen]]></category>
		<category><![CDATA[notulen rapat]]></category>
		<category><![CDATA[notulis]]></category>
		<category><![CDATA[rapat]]></category>
		<category><![CDATA[sistematika notula]]></category>
		<category><![CDATA[ungsi notula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prastna.wordpress.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Pengertian Notula  Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka dijelaskan bahwa notula adalah catatan singkat mengenai jalannya persidangan (rapat) serta hal yang dibicarakan dan diputuskan. Orang yang melakukan pekerjaan notula disebut juga sebagai notulis. Apakah notulis dengan sekretaris sama? Dalam situasi tertentu sekretaris dapat pula menjadi seorang notulis, namun seorang notulis tidaklah otomatis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=312&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pengertian Notula </span></strong></p>
<p><strong> </strong>Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka dijelaskan bahwa notula adalah catatan singkat mengenai jalannya persidangan (rapat) serta hal yang dibicarakan dan diputuskan. Orang yang melakukan pekerjaan notula disebut juga sebagai notulis. Apakah notulis dengan sekretaris sama? Dalam situasi tertentu sekretaris dapat pula menjadi seorang notulis, namun seorang notulis tidaklah otomatis menjadi seorang sekretaris.</p>
<p>Notula  merupakan sumber informasi atau sebagai dokumen otentik, karena notulen harus ditulis dengan teliti, tepat dan jelas. Penyusunan notula memerlukan kemampuan menulis secara jalas dan singkat.</p>
<p>Penulisan notula harus didahului dengan judul yang menyatakan dengan jelas badan yang mengadakan rapat, serta dimana rapat tersebut diselenggarakan. Setelah itu menyusun daftar nama peserta rapat beserta jabatannya dan yang terakhir adalah peserta rapat yang berhalangan hadir juga harus ditulis.</p>
<p>Kemudian notuis mencatat apa yang terjadi dalam rapat. Yang pertama dicatat ialah pengesahan notulen rapat sebelumnya bila rapat yang diadakan waktu itu adalah lanjutan dari rapat terdahulu. Selanjutnya yang perlu dicatat adalah pembahasan-pembahasan serta keputusa-keputusan yang diambil mengenai hal-hal yang tercantum didalam agenda rapat. Dan yang terakhir adalah mencatat pukul berapa rapat tersebut ditutup.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Fungsi Notula </span></strong></p>
<p><strong>1.      Sebagai Alat Bukti</strong></p>
<p>Apabila ada kasus, maka notula dapat digunakan sebagai bahan pembuktian di pengadilan. Sebagai contoh: pendaftaran suatu organisasi, bila ada perubahan bentuk atau penutupan suatu organisasi, membuktikan adanya pelaksanaan tugas tau tidak dilaksanakan tugas tersebut.</p>
<p><strong>2.      Sebagai Sumber Informasi Untuk peserta Rapat Yang Tidak Hadir</strong></p>
<p>Meskipun peserta berhalangan hadir, sebaiknya peserta tersebut tetap mengetahui materi rapat yang dibahas dan mengetahui hasil rapat.</p>
<p><strong>3.      Sebagai Pedoman Untuk Rapat Berikutnya</strong></p>
<p>Rapat terdahulu yang memerlukan tindak lanjut, direlisasikan dalam rapat berikutnya sehingga notula dapat dijadikan pedoman.</p>
<p><strong>4.      Sebagai Alat Pengingat Untuk Peserta Rapat</strong></p>
<p>Biasanya setelah pembukaan rapat, dibacakan notula hasil rapat sebelumnya sehingga dapat mengingatkan para peserta rapat.</p>
<p><strong>5.      Sebagai Dokumen</strong></p>
<p>Notula sebagai dokumen sehingga harus disusun dengan rapi menurut kronologis dan dijilid secara rapi lalu dismpan engan baik sesuai dengan sistem pengarsipan.</p>
<p><strong>6.      Sebagai Alat Untuk Rapat Semu</strong></p>
<p>Yang dimaksud dengan rapat semu adalah rapat yang tidak pernah dilaksanakan atau rapat fiktif. Pada saat menyususn notula biasanya dikonsultasikan terlebih dahulu kepada ahli hukum.</p>
<p><span id="more-312"></span></p>
<p>Untuk menjadi notulis yang handal, diperlukan beberapa keahlian yang harus dimiliki seorang notulis. Seorang notulis harus terampil atau mampu:</p>
<p>1.   Mendengarkan dan menulis</p>
<p>2.   Memilah dan memilih hal yang penting dan yang tidak penting</p>
<p>3.   Konsentrasi yang tinggi</p>
<p>4.   Menulis cepat</p>
<p>5.   Bersikap obyektif dan jujur</p>
<p>6.   Menguasai bahsa teknis baku dan menguasai materi pembahasan</p>
<p>7.   Mengetahui dan memenuhi kebutuhan pembaca notula</p>
<p>8.   Menguasai metode pencatatan secara sistematis</p>
<p>9.   Menguasai metode pengolahan data</p>
<p>10. Menguasai berbagi hal yang berhubungan dengan rapat.</p>
<p>11. Menyimpulkan hasil rapat</p>
<p>Seorang notulis memiliki beberapa fasilitas penunjang untuk membantu dalam menyelesaikan tugasnya. Beberapa fasilitas dan keistimewaan yang harus diperoleh seorang notulis adalah sebagai berikut:</p>
<p>1.   Notulis diberi informasi mengenai perihal latar belakang rapat, tujuan rapat, pokok masalah rapat, dan jenis rapat sebelum rapat dilaksanakan. Notulis harus mengetahui susunan acara beserta pokok masalah atau materi yang akan dirapatkan agar dapat dipelajari sehingga memudahkan dalam menyusun notula.</p>
<p>2.   Notulis diberi dokumen atau makalah yang dibagikan kepada para peserta rapat yang lain pada saat pelaksanaan rapat.</p>
<p>3.   Notulis diperbolehkan untuk meminta agar peserta rapat menjelaskan atau menyempurnakan kesimpulan yang dikemukakan notulis.</p>
<p>4.   Notulis mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan pada saat rapat berlangsung.</p>
<p>5.   Setiap sesi berakhir, notulis mempunyai hak untuk memperoleh rangkuman dan kesimpulan rapat.</p>
<p>6.   Agar dapat menyempurnakan notulanya, notulis berhak berbicara pada setiap sesi.</p>
<p>7.   Notulis duduk disebelah pemimpin rapat, agar mudah berkomunikasi dan memperoleh informasi secara maksimal.</p>
<p>8.   Apabila rapat berlangsung terlalu lama, maka perlu disiapkan beberapa orang untuk menulis notulis.</p>
<p>9.   Ketika menyusun notula, seorang notulis tidak boleh mengerjakan hal lain karena menyusun notula memerlukan konsentrasi yang penuh.</p>
<p>10.          Jika rapat membutuhkan waktu pengkajian yang lebih lama dan berlagsung alot dan rumit, maka notulis berhak memperoleh keleluasaan waktu untuk meyusun notula akhir.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Macam &#8211; macam Notula </span></strong></p>
<p>Telah dikemkakan bahwa notula adalah catatan singkat mengenai jalannya persidanga (rapat) serta hal yang dibicarakan dan diputuskan. Notula ini dapat disusun sebelum rapat, pada saat rapat berlangsung atau sesudah rapat. Notula terbagi menjadi dua jenis yaitu:</p>
<p><strong>1.      Notula Harfiah</strong></p>
<p>Yang dimaksud dengan notula harfiah adalah laporan atau pencatatan secara kata demi kata seluruh pembicaraan dalam rapat, tanpa menghilangkan atau menambahka kata lain (kata dari notulis). Notula harfiah biasanya berbentuk dikte atau catatan stenografi, menulis kembali hasil rekaman, dan gabungan dari keduanya.</p>
<p><strong>2.      Notula Rangkuman</strong></p>
<p>Notula rangkuman adalah laporan ringkas tentang pembicaraan dalam rapat. Oleh karena itu, notulis harus terampil menilai isi pembicaraan setiap peserta rapat. Notulis harus dapat memilah dan memilih setiap pembicaraan. Hal-hal yang ditulis oleh seorang notulis adalah yang sesuai dengan tema rapat da tujuan rapat. Apabila pembicaraannya tidak seseuai dengan tema dan tujuan rapat, maka notulis tidak perlu menulis di dalam notula rapat.</p>
<p>Notulis juga harus dapat meringkas setiap pembicaraan dan menuliskannya dalam kalimat yang komunikatif dan efektif. Dalam kata lain notula harus ditulis dengan kalimat yang jelas, singkat, dan tepat serta dapat dipahami oleh orang lain. Untuk itu, seorang notulis harus terampil mendengarkan setiap pembicaraan, meringkas, mencatat sambil mendengarkan pembicaraan berikutnya</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Garis Besar Notula </span></strong></p>
<p><strong>1.        ISI NOTULA</strong></p>
<p>Notula yang baik bukan notula yang panjang lebar, tetapi isinya kurang lengkap dan pembicaraan yang bertele-tele. Notula yang baik adalah yang ringkas tetapi lengkap serta jelas.</p>
<p>Notula yang lengkap berisi hal-hal seperti dibawah ini, walaupun ada organisasi yang menyimpang dari urutan-urutan berikut :</p>
<p>1.   Nama badan atau lembaga yang menyelenggarakan rapat.</p>
<p>2.   Sifat rapat (rutin, biasa, luar biasa, tahunan, rahasia dan lain-lain).</p>
<p>3.   Hari dan tanggal diselenggarakannya rapat.</p>
<p>4.   Tempat rapat.</p>
<p>5.   Waktu mulai dan berakhirnya (kalau tidak pasti, ditulis sampai dengan selesai).</p>
<p>6.   Nama dan jabatan pimpinan rapat.</p>
<p>7.   Daftar hadir peserta.</p>
<p>8.   Koreksi dan perbaikan rapat yang terdahulu.</p>
<p>9.   Catatan semua persoalan yang belum ada keputusannya.</p>
<p>10. Usul-usul atau perbaikan-perbaikan.</p>
<p>11. Tanggal atau bulan kapan akan diadakan rapat berikutnya.</p>
<p>12. Penundaan rapat dan tanggal penundaan (bila ada).</p>
<p>13. Tanda tangan notulis dan ketua rapat.</p>
<p>Notula harus obyektif tanpa ada hal-hal yang dikarang sendiri oleh notulis, sehingga menyimpang dari isi pembicaraan yang asli. Notula yang baik juga harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :</p>
<p>1.   Lengkap berisi tentang semua informasi walaupun dalam penulisannya ringkas (tidak bertele-tele).</p>
<p>2.   Bahasa notula mudah dipahami pembaca.</p>
<p>3.   Setiap pembicaraan ditulis secar terperinci dan satu sama lain saling terkait.</p>
<p>4.   Dapat membantup impinan dalam pengambilan kebijakan dan keputusan.</p>
<p>5.   Dapat dijadikan sebagai alat bukti apabila terjadi suatu permasalahan.</p>
<p>6.   Dapat membantu untuk mengingatkan kembali setiap orang yang terkait bila memerlukan lagi notula tersebut.</p>
<p><strong>2.        SUSUNAN NOTULA</strong></p>
<p>Susunan notula secara garis besarnya hampir sama, walaupun tidak persis. Karena masih ada perbedaan sedikit-sedikit, maka dibawah ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat menyusun notula.</p>
<p>1.   Nomor rapat dan jenis rapat perlu disebutkan, apalagi jika pembicaraan itu dilaksanakan secara berkala.</p>
<p>2.   Jam berapa dibuka, harus disebutkan secara jelas dan jam berapa rapat tersebut ditutup. Tetapi jika rapat tersebut belum selesai maka ditulis mulai pukul &#8230;.. sampai selesai &#8230;&#8230;</p>
<p>3.   Daftar hadir semua ditandatangani oleh peserta dan harus dilampirkan pada notula.</p>
<p>4.   Meskipun notula ditulis secara ringkas, tetapi setiap pembicaraan harus disebutkan namanya. Misalnya Saudara Majid mengemukakan bahwa &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;, maka ketua menyetujui usulan tersebut dan &#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>5.   Tetapi nama pendukung, terutama yang tidak disetujui, jangan ditulis. Lebih baik ditulis jumlanya, misalnya yang setuju &#8230;&#8230;&#8230; orang dan yang tidak setuju &#8230;&#8230;&#8230; orang. Orang yang setuju dan tidak setuju cukup dengan mengancungkan tangan saja, tidak perlu berbicara.</p>
<p>6.   Setelah rapat selesai, notulis mengoreksi lagi notula dan menyalin kembali salinannya, diketik dengan rapi, dan ditandatangani oleh notulis serta ketua rapat tersebut.</p>
<p>7.   Bila perlu, digandakan untuk dibagikan pada peserta rapat yang tidak hadir pada saat rapat berlangsung.</p>
<p><em><strong> Contoh Notula</strong></em></p>
<p>CONTOH 1.</p>
<p align="center">NOTULA RAPAT</p>
<p>Hari,tanggal                        : Rabu, 8 Februari 2012</p>
<p>Waktu                                    : 14.00 s.d. 16.00 WIB</p>
<p>Tempat                                 : Ruang TRRC SMA Muhammadiyah</p>
<p>Pemimpin Rapat                : Akbar Wicaksono</p>
<p>Notulis                                   : Desi Andriani</p>
<p>Peserta                                  : 20 orang (Daftar hadir terlampir)</p>
<p>Acara :</p>
<p>1. Pembukaan</p>
<p>2. Pengarahan Pembina IPM/OSIS</p>
<p>3. Pembentukan Panitia Festival Budaya Religi</p>
<p>4. Lain-lain</p>
<p>5. Penutup/Doa</p>
<p><strong> Risalah :</strong></p>
<p>1. Rapat dibuka pada pukul 14.00 dengan membaca Basmallah.</p>
<p>2. Pengarahan Pembina IPM/OSIS yang intinya :</p>
<p>a. ………………………..</p>
<p>b. ……………………….</p>
<p>3. Pembentukan Panitia</p>
<p>Pembentukan panitia dipandu oleh ketua IPM/OSIS. Hasilnya sebagai berikut:</p>
<p>Ketua                                : Fikrian Fajar Al Farobi</p>
<p>Wakil                                 : Shiddiq Anjar</p>
<p>Sekretaris                        : Siti Fatimah</p>
<p>…..</p>
<p>Dst,</p>
<p>4. Lain-lain</p>
<p>a. Sdr. Edi mengusulkan ……</p>
<p>b. Sdri. Eni bertanya …..</p>
<p>c. Sdri. Endang menyarankan …..</p>
<p>5. Penutup/Doa</p>
<p>Rapat ditutup pada pukul 16.00dengan bacaan Hamdallah</p>
<p>Wonosobo, 8 Februari 2012</p>
<p>Pemimpin rapat                                                                     Notulis</p>
<p>(Akbar Wicaksono)                                                                (Desi Andriani)</p>
<p>CONTOH 2.</p>
<p align="center">NOTULA RAPAT</p>
<p>Hari, Tanggal                      : Rabu, 8 Februari 2012</p>
<p>Tempat                                 : Ruang TRRC SMA Muhammadiyah</p>
<p>Waktu                                   : pukul 13.00-15.00</p>
<p>Susunan Acara:</p>
<p>1. Pembukaan</p>
<p>2. Pengaraha dari kepala SMA Muhammadiyah</p>
<p>3. Pembentukan susunan panitia pelaksana “Dialog dengan Tokoh Kebudayaan” dan penetapan</p>
<p>jadwal kerja</p>
<p>4. Doa</p>
<p>5. Penutup</p>
<p>Hasil Rapat:</p>
<p>1. Rapat dipimpin dan dibuka oleh ketua IPM/OSIS SMA Muhammadiyah sdr. Fikrian Fajar pada pukul 13.00. Ketua IPM/OSIS mengharapkan susunan panitia “Dialog dengan Tokoh Kebudayaan” yang akan dibentuk melibatkan wakil-wakil kelas X dan XI, dengan tujuan untuk mengembangkan pengalaman berorganisasi dan memudahkan pengomunikasian program. Kelas XII tidak dilibatkan dalam kepanitiaan karena tengah mengikuti persiapan ujian akhir nasional.</p>
<p>2. Kepala SMA Muhammadiyah bapak Shodiq Al Fajar mengarahkan agar seluruh panitia dapat bekerja sama, panitia menyusun perincian atau panduan setiap seksi, setiap seksi melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya. Jika ada kesulitan, diharapkan segera memberi tahu ketua.</p>
<p>3. Susunan Panitia dan Jadwal Kerja</p>
<p>3.1. Susunan Kepanitiaan yang Terbentuk</p>
<p>1. Ketua Panitia         : Fikrian Fajar</p>
<p>2. Wakil Ketua           : Siti Fatimah</p>
<p>3. Sekretaris               : Akbar Wicaksono</p>
<p>4. Bendahara             : Ana Farida</p>
<p>5. Seksi-seksi (koordinator)</p>
<p>a. pengetikan dan penggandaan Makalah : Ajib Amarudin</p>
<p>b. Penerima Tamu                                                : Putri Ekaningtyas</p>
<p>c. Konsumsi                                                             : Iis Dahlia</p>
<p>d. dst.</p>
<p>Catatan : setiap koordinator dipersilakan memilih anggota 3-5 orang.</p>
<p>3.2. Jadwal Kerja</p>
<p>1. Persiapan masing-masing seksi tanggal 6-8 Agustus 2009</p>
<p>2. Rapat akhir panitia tanggal 20 Agustus 2009, pukul 13.00-14.00</p>
<p>3. Pengecekan persiapan masing-masing seksi tanggal 23 Agustus 2009, pukul 14.00</p>
<p>4. Pelaksanaan kegiatan tanggal 24 Agustus 2009, pukul 10.00 sampai selesai</p>
<p>4. Doa dipimpin oleh Mohammad Fatah</p>
<p>5. Rapat ditutup pada pukul 15.00 WIB</p>
<p>Wonosobo, 8 Februari 2012</p>
<p>Pemimpin Rapat                                                                   Notulis</p>
<p>(Fikrian Fajar)                                                                (Anggun Aida)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prastna.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prastna.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prastna.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prastna.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prastna.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prastna.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prastna.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prastna.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prastna.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prastna.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prastna.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prastna.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prastna.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prastna.wordpress.com/312/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=312&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prastna.wordpress.com/2012/02/12/notula-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c1a5524bf863d326dd2c23f20e05ef3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prastna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menulis Naskah Drama</title>
		<link>http://prastna.wordpress.com/2012/02/05/menulis-naskah-drama/</link>
		<comments>http://prastna.wordpress.com/2012/02/05/menulis-naskah-drama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 14:30:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prastna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesastraan]]></category>
		<category><![CDATA[character]]></category>
		<category><![CDATA[dialog]]></category>
		<category><![CDATA[Drama]]></category>
		<category><![CDATA[drama script]]></category>
		<category><![CDATA[epilog]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kramagung]]></category>
		<category><![CDATA[menulis naskah drama]]></category>
		<category><![CDATA[monolog]]></category>
		<category><![CDATA[naskah drama]]></category>
		<category><![CDATA[prolog]]></category>
		<category><![CDATA[script]]></category>
		<category><![CDATA[wawancang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prastna.wordpress.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Bermain peran adalah kegiatan memerankan pribadi orang lain  berkenaan dengan watak/sikap/tingkah laku, sehingga seolah-olah dapat menjadi orang lain.  Untuk dapat diperankan oleh orang lain, perlu dibentuk karakter seorang tokoh yang sesuai dengan imajinasi/bayangan. Pembentukan bayangan/imajinasi tokoh tersebut perlu dijelaskan dalam sebuah karangan yang berbentuk deskripsi. Dalam mendeskripsikan tokoh perlu gambaran secara utuh tokoh yang akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=296&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bermain peran adalah kegiatan memerankan pribadi orang lain  berkenaan dengan watak/sikap/tingkah laku, sehingga seolah-olah dapat menjadi orang lain.  Untuk dapat diperankan oleh orang lain, perlu dibentuk karakter seorang tokoh yang sesuai dengan imajinasi/bayangan. Pembentukan bayangan/imajinasi tokoh tersebut perlu dijelaskan dalam sebuah karangan yang berbentuk deskripsi.</p>
<p>Dalam mendeskripsikan tokoh perlu gambaran secara utuh tokoh yang akan diperankan. Dengan demikian,  orang lain yang hendak memerankan tokoh yang telah diciptakan, akan memiliki imajinasi/gambaran yang jelas. Untuk menggambarkan tokoh imajinasi diperlukan beberapa hal yang perlu dituliskan. Misalnya, gambarkan identitas tokoh, seperti nama tokoh, umur, jenis kelamin jabatan/pekerjaannya, tingkat ekonomi, dan lingkungan sosial tempat tinggalnya. Selanjutnya, jelaskan gambaran fisik yang berkenaan dengan ciri-ciri tubuh, seperti cacat jasmani, ciri khas yang menonjol,  suku,  bangsa,  wajah/raut muka,  potongan rambut,  baju dan aksesoris yang dikenakan, tinggi/pendek, kurus/gemuk,  atau suka senyum/cemberut. Tidak lupa jelaskan juga watak, kesukaan, ambisi, temperamental yang dimiliki tokoh tersebut sehingga tokoh tersebut memiliki karakter yang kuat.</p>
<p>Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam menulis drama adalah kaidah penulisan naskah drama.  Misalnya, petunjuk perilaku tokoh harus ditulis berbeda dengan teks dialog pelaku tersebut agar memudahkan aktor untuk memerankan tokoh tersebut.</p>
<p>Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan naskah drama adalah sebagai berikut,<br />
<strong>1. Struktur dasar sebuah drama terdiri atas tiga bagian: prolog, dialog, dan epilog.</strong></p>
<p><strong>a. Prolog </strong></p>
<p>merupakan pembukaan atau peristiwa pendahuluam dalam sebuah drama atau sandiwara. Bisa juga, dalam sebuah prolog dikemukakan para pemain, gambaran seting, dan sebagainya.</p>
<p><strong>b. Dialog/monolog </strong></p>
<p>merupakan media kiasan yang melibatkan tokoh-tokoh drama yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak manusia, problematika yang dihadapi, dan bagaimana manusia dapat menyelesaikan persoalan hidupnya.</p>
<p><strong>c. Epilog </strong></p>
<p>adalah bagian terakhir dari sebuah drama yang berfungsi untuk menyampaikan intisari cerita atau menafsirkan maksud cerita oleh seorang aktor pada akhir cerita. Dengan kata lain, epilog merupakan peristiwa terakhir yang menyalesaikan peristiwa induk.</p>
<p><strong>2. Dalam sebuah dialog itu sendiri, ada tiga elemen yang tidak boleh dilupakan.</strong><strong><br />
</strong>Ketiga elemen tersebut adalah tokoh, wawancang/percakapan,  dan kramagung.</p>
<p><strong>a. Tokoh </strong></p>
<p>adalah pelaku yang mempunyai peran yang lebih dibandingkan pelaku-pelaku lain, sifatnya bisa protagonis atau antagonis.</p>
<p><strong>b. Wawancang/Percakapan </strong></p>
<p>adalah dialog atau monolog yang harus diucapkan oleh tokoh cerita.</p>
<p><strong>c. Kramagung </strong></p>
<p>adalah petunjuk perilaku, tindakan, atau perbuatan yang harus dilakukan oleh tokoh. Dalam naskah drama, kramagung dituliskan dalam tanda kurung (biasanya dicetak miring).</p>
<p>Seorang tokoh dapat beraksi karena tokoh tersebut memiliki konflik. Konflik dalam pementasan tidak terlepas dari kehadiran tokoh yang bertentangan satu dengan lainnya. Gerakan atau tindakan para tokoh, juga melalui dialog yang diucapkan,  dapat membentuk suatu peristiwa. Peristiwa ini berasal dari hal yang biasa sampai konflik yang memuncak. Hal yang patut diperhatikan adalah peristiwa konflik tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui tahapan-tahapan alur.  Dalam hal ini,  peristiwa yang satu akan mengakibatkan peristiwa yang lain.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prastna.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prastna.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prastna.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prastna.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prastna.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prastna.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prastna.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prastna.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prastna.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prastna.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prastna.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prastna.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prastna.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prastna.wordpress.com/296/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=296&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prastna.wordpress.com/2012/02/05/menulis-naskah-drama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c1a5524bf863d326dd2c23f20e05ef3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prastna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ragam Bahasa Jurnalistik Cetak dan Radio</title>
		<link>http://prastna.wordpress.com/2012/01/20/bahasa-jurnalistik/</link>
		<comments>http://prastna.wordpress.com/2012/01/20/bahasa-jurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 02:38:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prastna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebahasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Macam-Macam]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa jurnalistik cetak]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa jurnalistik radio]]></category>
		<category><![CDATA[ciri jurnalistik radio]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik cetak]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik radio]]></category>
		<category><![CDATA[media cetak]]></category>
		<category><![CDATA[radio]]></category>
		<category><![CDATA[ragam bahasa jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[ragam bahasa jurnalistik radio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prastna.wordpress.com/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[Ragam Bahasa Jurnalistik Cetak  Pengertian Sebagai nomina kata ragam memiliki lima arti : tingkah, ulah; macam, jenis; lagu, musik, langgam; warna, corak; dan laras. Ragam yang berarti laras khusus dipakai dalam bahasa. Sebagai nomina kata laras memiliki dua arti : (tinggi rendah) nada; dan kesesuaian atau kesamaan (KBBI, 1990: 719-720) Ragam bahasa oleh Nababan diartikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=285&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Ragam Bahasa</strong> <strong>Jurnalistik Cetak</strong></p>
<p> Pengertian</p>
<p>Sebagai nomina kata ragam memiliki lima arti : tingkah, ulah; macam, jenis; lagu, musik, langgam; warna, corak; dan laras. Ragam yang berarti laras khusus dipakai dalam bahasa. Sebagai nomina kata laras memiliki dua arti : (tinggi rendah) nada; dan kesesuaian atau kesamaan (KBBI, 1990: 719-720)</p>
<p>Ragam bahasa oleh Nababan diartikan sebagai variasi bahasa, baik variasi bentuk maupun variasi maknanya. Poerwodarminto mengartikan ragam bahasa sebagai sedikit-sedikit yang terdapat dalam bahasa. Menurut Anton M. Moeliono, ragam bahasa sebagai variasi yang terdapat dalam bahasa. Menurut Slamet Soewandi, ragam bahasa adalah variasi (dalam) bahasa.</p>
<p>Sifat Umum Ragam Bahasa Jurnalistik</p>
<p>Perlu diketahui sebelumnya, bahwa yang membedakan ragam bahasa jurnalistik dengan ragam bahasa yang lain adalah dalam cara penggunaannya. Ragam bahasa jurnalistik digunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang dialami, diketahui, dan dipikirkan oleh sebagian besar orang ( Slamet Soewandi, 1996 ). Hal-hal itu berupa fakta ( berita ), pendapat (opini ), dan pemberitahuan.</p>
<p>Menurut H. Rosihan Anwar, sifat Ragam bahasa jurnalistik terdiri dari:</p>
<p>1. Menggunakan kalimat pendek</p>
<p>2.Menggunakakn bahasa biasa yang mudah dipahami orang</p>
<p>Bahasa adalah alat untuk menyampaikan cipta dan informasi. Bahasa diperlukan dalam komunikasi. Dalam suatu penulisan harus menggunakan bahasa yang betul-betul dapat dimengerti khalayak <em>(audiens).</em> Salah satunya penulis harus komunikatif.</p>
<p>3. Menggunakan bahasa sederhana dan jernih pengutaraannya</p>
<p>Khalayak media massa yaitu pembaca surat kabar, pendengar radio, penonton televisi terdiri dari aneka ragam manusia dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang berbeda-beda, dengan minat perhatian, daya tangkap, kebiasaan yang berbeda-beda pula. Maka penulis berusaha menulis sesederhana dan sejernih mungkin.</p>
<p>4. Menggunakan bahasa tanpa kalimat majemuk</p>
<p>Dengan menggunaan kalimat majemuk, pengutaraannya pikiran kita sering terpeleset menjadi berbelit-belit dan bertele-tele. Penulis sebaiknya menjauhkan diri dari kesibukan memakai kalimat majemuk karena bisa mengakibatkan tulisannya menjadi <em>woolly</em> alias tidak terang.</p>
<p>5.Mengunakan bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat pasif</p>
<p>Membuat berita menjadi hidup bergaya ialah sebuah persyaratan yang dituntut penulis atau wartawan. Pengunaan kalimat aktif lebih disukai jurnalistik daripada kalimat pasif karena dinggap lebih bergaya. Contoh: : Si Amat dipukul babak belur oleh si Polan”. Dari pada kalimat “ Si Polan memukul si Amat babak belur”.</p>
<p>6. Menggunakan bahasa padat dan kuat</p>
<p>Penulis atau wartawan muda seringkali suka terhanyut menulis dengan mengulangi makna yang sama dalam bebagai kata. Kata-kata yang dipakai seharusnya efisien dan seperlunya saja. kembang-kembang bahsa harus dihindarkan. Bahasa jurnalistik harus hemat dengan kata-kata.</p>
<p>7. Menggunakan bahasa positif, bukan bahasa negative</p>
<p>Penulis di dalam menulis, sedapat mungkin menulis dalam bentuk kalimat positif karena kalimat positif dianggap lebih sopan daripada kalimat negatif. Contoh: “ Wartawan Sondang Meliala tidak menghendaki penataran wartawan olahraga”. Dengan kalimat “ Wartawan Sondang Meliala menolak penataran wartawan olahraga”. Kalimat kedua lebih bersifat positif dibanding dengan perkataan “ tidak menghendaki”, karena “ tidak” bersifat negatif.</p>
<p>Menurut Slamet Soewandi, secara umum wacana dengan ragam bahasa jurnalistik memiliki ciri:</p>
<p><span id="more-285"></span></p>
<p>1. Singkat</p>
<p>Singkat adalah penuturan yang tidak berpanjang-panjangan, bertele-tele</p>
<p>2. Padat</p>
<p>Padat adalah mengacu pada arti syarat isinya</p>
<p>3. Sederhana</p>
<p>Sederhana adalah tidak berbelit-belit</p>
<p>4. Lancar</p>
<p>Lancar adalah penuturan yang tidak tersendat-sendat, melainkan mengalir dengan enak.</p>
<p>5. Jelas</p>
<p>Jelas adalah penuturan yang tidak menimbulkan salah tafsir .</p>
<p>6. Lugas</p>
<p>Lugas adalah tidak mengada-ada.</p>
<p>7. Menarik</p>
<p>Menarik adalah pemberitaan yang membuat pembaca, pendengar atau penonton bosan, atau mengerutkan dahi karena masalahnya berat.</p>
<p>8. Baku</p>
<p>Baku adalah penulisan kata dan kalimat, pemilihan dan pembentukan kata, pemilihan danpembentukan kalimat, pemilihan dan pembentukan paragraph menurut kaidah yang berlaku.</p>
<p>9. Netral</p>
<p>Netral adalah tidak berpihak atau membedakan tingkatan, jabatan atau kedudukan orang.</p>
<p>Menurut Kunjana Rahardi ragam bahasa jurnalistik yaitu:</p>
<p>1. Komunikatif</p>
<p>Bahasa jurnalistik tidak berbelit-belit, tidak membunga-bunga, tetapi harus langsung terus langsung pada pokok permasalahannya ( straight to the point). Bahasa jurnalistik harus lugas, sederhana, tepat diksinya dan menarik sifatnya. Dengan demikian bahasanya akan menjadi komunikatif, tidak menimbulkan salah paham dan menimbulkan tafsir ganda.</p>
<p>2. Spesifik</p>
<p>Bahasa jurnalistik harus disusun dengan kalimat-kalimat yang singkat-singkat dan pendek-pendek. Bentuk kebahasaannya sederhana dan mudah diketahui oleh banyak orang, gampang dimengerti oleh orang awam. Kata-katanya hendaknya bersifat denotative maknanya, sehingga tidak dimungkinkan ada salah tafsir makna yang ganda.</p>
<p>3. Hemat kata</p>
<p>Kebahasaan yang dipakai dalam bahasa jurnalistik hendaknya bercirikan minim karakter kata atau sedikit jumlah huruf-hurufnya. Kalimat-kalimat jurnalistik dibuat simple dan sederhana serta tidak menumpuk-nimpuk gagasannya.</p>
<p>4. Jelas makna</p>
<p>Bahasa jurnalistik sedapat mungkin digunakan kata-kata yang bermakna denotatif, kata-kata yang mengandung makna sebenarnya, bukan kata-kata yang bermakna konotatif, kata-kata yang maknanya tidak langsung, kata, kata yang bermakna kiasan.</p>
<p>5. Tidak mubazir dan tidak klise</p>
<p>Bentuk mubazir pada kata atau frasa yng sebenarnya dapat dihilangkan dari kalimat yang menjadi wadahnya, dan peniadaan kata-kata tersebut tidak mengubah arti/maknanya. Kata-kata klise atau stereotype ialah kata-kata yang berciri memenatkan, melelahkan, membosankan, terus hanya begitu-begitu saja, tidak ada inovasi, tidak ada variasi.</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>  Ragam Bahasa Jurnalistik Radio</strong></p>
<p>Salah satu alat komunikasi yang akrab dengan kita adalah radio. Perbedaan mendasar antara radio dan media cetak adalah dalam hal cara penyampaian pesannya. Media cetak lebih menitikberatkan pada penyampaian pesan melalui cetakan ( video ), sedangkan radio melalui pendengaran ( audio ).</p>
<p>Secara garis besar sebenarnya ragam bahasa radio hampir sama dengan ragam bahasa dalam media cetak. Tetapi, radio memiliki suatu gaya tersendiri. Gaya radio sendiri, menurut Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A, disebabkan oleh dua faktor :</p>
<p>1. Sifat radio siaran</p>
<p>Sifat radio siaran adalah auditif, untuk didengar. Karena hanya untuk didengar, maka isi siaran yang sampai ke telinga pendengar hanya sepintas lalu saja</p>
<p>2. Sifat pendengar radio</p>
<p>Pendengar adalah sasaran komunikasi massa media radio. Komunikasi dapat dikatakan efektif , apabila pendengar terpikat perhatiannya, tertarik terus minatnya, mengerti, tergerak hatinya dan melakukan kegiatan apa yang diinginkan si pembicara ( Onong Uchayana Effendy, 1978 ).</p>
<p><strong> Ciri Jurnalistik Radio</strong></p>
<p>Berdasarkan karakteristik jurnalistik radio yang dipengaruhi faktor siaran dan pendengar, maka radio memiliki ciri khas sebagai berikut :</p>
<p>1. Tidak mengenal ” kebenaran <em>reserve</em> ”</p>
<p>Hal tersebut memiliki maksud bahwa berita dalam radio itu harus mengandung kebenaran yang tepat dan akurat. Hal ini mutlak karena sekali berita itu disiarkan, tidak mungkin diralat. Kalaupun dapat, perlu diingat sifat radio itu sendiri.</p>
<p>Pendengar mungkin hanya mendengar ralatnya saja, tanpa pernah mendengar apa yang diralat. Atau kebalikannya, pendengar tidak mendengar ralatnya, sehingga berita salah yang diralat dianggap suatu kebenaran.</p>
<p>2. Obyektif</p>
<p>Suatu berita yang obyektif tentunya tidak memihak, tidak cacat, dan tidak diwarnai maksud-maksud tertentu. Sehingga hendaknya berita dalam diberikan sebagaimana adanya, tanpa maksud, dan tujuan tertentu.</p>
<p>3. Bersusila</p>
<p>Radio ditujukan kepada semua pendengar dengan tidak memandang status sosialnya ( khususnya program berita ). Telah disinggung berulangkali bahwa radio bersifat auditif. Karena sifat radio itu sendiri dan keragaman status sosial pendengarnya, hal ini tentu akan membawa imajinasi yang berbeda pada setiap pendengarnya. Oleh sebab itu, hendaknya kesopanan dalam penuturan perlu dijaga.</p>
<p><strong> Ciri Bahasa Jurnalistik Radio</strong></p>
<p>Secara garis besar, bahasa jurnalistik radio dan jurnalistik cetak tidak jauh berbeda. Radio menekankan penyampaian pesan secara audio, maka bahasa yang digunakan tentunya disusun dan diatur sedemikian rupa sehingga dapat menyampaikan pesan secara tepat kepada pendengarnya. Menurut Onong Uchajana Effendy ( 1978 : 91 ), ciri bahasa radio adalah :</p>
<ol>
<li>Menggunakan kata-kata yang sederhana.</li>
<li>Menggunakan kata-kata yang lazim dipakai masyarakat.</li>
<li>Menggunakan kata-kata yang sopan.</li>
<li>Menggunakan susunan kalimat yang rapih.</li>
<li>Menggunakan susunan kalimat yang logis</li>
<li>Bahasanya jelas.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Anwar, H. Rosihan, 2004. <em>Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi</em>. Yogyakarta : Media Abadi.</p>
<p>Effendy, Onong Uchjana. 1978.<em> Radio Siaran: Teori dan Praktek</em>. Bandung : Penerbit Alumni.</p>
<p>Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia.</em> DepDikBud : Balai Pustaka.</p>
<p>Kunjana Rahardi, R. 2006. <em>Asyik Berbahasa Jurnalistik:</em> <em>Kalimat Jurnalistik dan Temali Masalahnya.</em> Yogyakarta : Santusta.</p>
<p>Nababan. 1991. <em>Sosiolinguistik: Suatu Pengantar</em>. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama</p>
<p>Slamet Soewandi, A.M. 1996. “<em>Ragam Bahasa Jurnalistik: Apa, Mengapa, Di mana?” dalam Romo Kadarman: Kenangan dan Persembahan</em>. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prastna.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prastna.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prastna.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prastna.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prastna.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prastna.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prastna.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prastna.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prastna.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prastna.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prastna.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prastna.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prastna.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prastna.wordpress.com/285/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=285&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prastna.wordpress.com/2012/01/20/bahasa-jurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c1a5524bf863d326dd2c23f20e05ef3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prastna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Persamaan dan Perbedaan antara Argumentasi dan Eksposisi</title>
		<link>http://prastna.wordpress.com/2012/01/16/persamaan-dan-perbedaan-antara-argumentasi-dan-eksposisi/</link>
		<comments>http://prastna.wordpress.com/2012/01/16/persamaan-dan-perbedaan-antara-argumentasi-dan-eksposisi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 12:34:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prastna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebahasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Argumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[eksposisi]]></category>
		<category><![CDATA[jenis karangan]]></category>
		<category><![CDATA[jenis paragraf]]></category>
		<category><![CDATA[paragraf]]></category>
		<category><![CDATA[paragraf argumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[paragraf eksposisi]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan argumentasi dan eksposisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prastna.wordpress.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Persamaan Argumentasi dan Eksposisi Argumentasi dan Eksposisi sama-sama menjelaskan pendapat, gagasan, dan keyakinan kita Argumentasi dan Eksposisi sama-sama memerlukan fakta yang diperkuat  atau diperjelas dengan angka, peta, grafik, diagram, gambar, dll. Argumentasi dan Eksposisi sama-sama memerlukan analisis dalam pembahasan   Argumentasi dan Eksposisi sama-sama menggali idenya dari: Pengalaman Pengamatan dan Penelitian Sikap dan Keyakinan Perbedaan Argumentasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=239&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Persamaan Argumentasi dan Eksposisi</strong></p>
<ol>
<li>Argumentasi dan Eksposisi sama-sama menjelaskan pendapat, gagasan, dan keyakinan kita</li>
<li>Argumentasi dan Eksposisi sama-sama memerlukan fakta yang diperkuat  atau diperjelas dengan angka, peta, grafik, diagram, gambar, dll.</li>
<li>Argumentasi dan Eksposisi sama-sama memerlukan analisis dalam pembahasan</li>
<li>  Argumentasi dan Eksposisi sama-sama menggali idenya dari:
<ol>
<li>Pengalaman</li>
<li>Pengamatan dan Penelitian</li>
<li>Sikap dan Keyakinan</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong>Perbedaan Argumentasi dan Eksposisi</strong></p>
<ol>
<li>Tujuan eksposisi hanya menjelaskan dan menerangkan sehingga pembaca memperoleh informasi yang sejelas-jelasnya. Argumentasi bertujuan untuk mempengaruhi pembaca sehingga pembaca menyetujui bahwa pendapat dan keyakinan kita benar.</li>
<li>Eksposisi menggunakan contoh, grafik, dll. Untuk menjelaskan sesuatu yang kita kemukakan . Argumentasi memberi contoh, grafik, dll. Untuk membuktikan bahwa sesuatu yang kita kemukakan itu benar</li>
<li>Penutup pada eksposisi biasanya menegaskan lagi dari sesuatu yang telah diuraikan sebelumnya</li>
<li>Penutup pada argumentasi biasanya berupa kesimpulan atas sesuatu yang telah diuraikan sebelumnya.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prastna.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prastna.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prastna.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prastna.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prastna.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prastna.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prastna.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prastna.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prastna.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prastna.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prastna.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prastna.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prastna.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prastna.wordpress.com/239/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=239&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prastna.wordpress.com/2012/01/16/persamaan-dan-perbedaan-antara-argumentasi-dan-eksposisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c1a5524bf863d326dd2c23f20e05ef3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prastna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gurindam Dua Belas</title>
		<link>http://prastna.wordpress.com/2012/01/10/gurindam-dua-belas/</link>
		<comments>http://prastna.wordpress.com/2012/01/10/gurindam-dua-belas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 02:45:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prastna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesastraan]]></category>
		<category><![CDATA[contoh gurindam]]></category>
		<category><![CDATA[gurindam]]></category>
		<category><![CDATA[gurindam 12]]></category>
		<category><![CDATA[gurindam 12 raja ali haji]]></category>
		<category><![CDATA[gurindam dua belas]]></category>
		<category><![CDATA[raja ali haji]]></category>
		<category><![CDATA[sastra melayu klasik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prastna.wordpress.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[GURINDAM DUA BELAS karya: Raja Ali Haji Satu Ini Gurindam pasal yang pertama: Barang siapa tiada memegang agama, Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama. Barang siapa mengenal yang empat, Maka ia itulah orang yang ma’rifat Barang siapa mengenal Allah, Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah. Barang siapa mengenal diri, Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri. Barang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=186&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://prastna.files.wordpress.com/2012/01/gurindam-12-a.jpg?w=214&#038;h=134" alt="" width="214" height="134" /></p>
<p><strong>GURINDAM DUA BELAS</strong></p>
<p>karya: <strong>Raja Ali Haji</strong></p>
<p><strong>Satu</strong></p>
<p>Ini Gurindam pasal yang pertama:</p>
<p><em>Barang siapa tiada memegang agama,<br />
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.<br />
Barang siapa mengenal yang empat,<br />
Maka ia itulah orang yang ma’rifat<br />
Barang siapa mengenal Allah,<br />
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.<br />
Barang siapa mengenal diri,<br />
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.<br />
Barang siapa mengenal dunia,<br />
Tahulah ia barang yang teperdaya.<br />
Barang siapa mengenal akhirat,<br />
Tahulah ia dunia mudarat.</em></p>
<p><strong>Dua</strong></p>
<p>Ini Gurindam pasal yang kedua:</p>
<p><em>Barang siapa mengenal yang tersebut,<br />
Tahulah ia makna takut.<br />
Barang siapa meninggalkan sembahyang,<br />
Seperti rumah tiada bertiang.<br />
Barang siapa meninggalkan puasa,<br />
Tidaklah mendapat dua termasa.<br />
Barang siapa meninggalkan zakat,<br />
Tiadalah hartanya beroleh berkat.<br />
Barang siapa meninggalkan haji,<br />
Tiadalah ia menyempurnakan janji.</em></p>
<p><strong>Tiga</strong></p>
<p>Ini Gurindam pasal yang ketiga:</p>
<p><em>Apabila terpelihara mata,<br />
Sedikitlah cita-cita.<br />
Apabila terpelihara kuping,<br />
Khabar yang jahat tiadaiah damping.<br />
Apabila terpelihara lidah,<br />
Niscaya dapat daripadanya paedah.<br />
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,<br />
Daripada segala berat dan ringan.<br />
Apabila perut terlalu penuh,<br />
Keluarlah fi’il yang tiada senonoh.<br />
Anggota tengah hendaklah ingat,<br />
Di situlah banyak orang yang hilang semangat<br />
Hendaklah peliharakan kaki,<br />
Daripada berjaian yang membawa rugi.</em></p>
<p><span id="more-186"></span></p>
<p><strong>Empat</strong></p>
<p>Ini Gurindam pasal yang keempat:</p>
<p><em>Hati itu kerajaan di daiam tubuh,<br />
Jikalau zalim segala anggotapun rubuh.<br />
Apabila dengki sudah bertanah,<br />
Datanglah daripadanya beberapa anak panah.<br />
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,<br />
Di situlah banyak orang yang tergelincir.<br />
Pekerjaan marah jangan dibela,<br />
Nanti hilang akal di kepala.<br />
Jika sedikitpun berbuat bohong,<br />
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung.<br />
Tanda orang yang amat celaka,<br />
Aib dirinya tiada ia sangka.<br />
Bakhil jangan diberi singgah,<br />
Itulah perampok yang amat gagah.<br />
Barang siapa yang sudah besar,<br />
Janganlah kelakuannya membuat kasar.<br />
Barang siapa perkataan kotor,<br />
Mulutnya itu umpama ketor.<br />
Di mana tahu salah diri,<br />
Jika tidak orang lain yang berperi.</em></p>
<p><strong>Lima</strong></p>
<p>Ini Gurindam pasal yang kelima:</p>
<p><em>Jika hendak mengenai orang berbangsa,<br />
Lihat kepada budi dan bahasa,<br />
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,<br />
Sangat memeliharakan yang sia-sia.<br />
Jika hendak mengenal orang mulia,<br />
Lihatlah kepada kelakuan dia.<br />
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,<br />
Bertanya dan belajar tiadalah jemu.<br />
Jika hendak mengenal orang yang berakal,<br />
Di dalam dunia mengambil bekal.<br />
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,<br />
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.</em></p>
<p><strong>Enam</strong></p>
<p>Ini Gurindam pasal yang keenam:</p>
<p><em>Cahari olehmu akan sahabat,<br />
Yang boleh dijadikan obat.<br />
Cahari olehmu akan guru,<br />
Yang boleh tahukan tiap seteru.<br />
Cahari olehmu akan isteri,<br />
Yang boleh dimenyerahkan diri.<br />
Cahari olehmu akan kawan,<br />
Pilih segala orang yang setiawan.<br />
Cahari olehmu akan ‘abdi,<br />
Yang ada baik sedikit budi,</em></p>
<p><strong>Tujuh</strong></p>
<p>Ini Gurindam pasal yang ketujuh:</p>
<p><em>Apabila banyak berkata-kata,<br />
Di situlah jalan masuk dusta.<br />
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,<br />
Itulah landa hampirkan duka.<br />
Apabila kita kurang siasat,<br />
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.<br />
Apabila anak tidak dilatih,<br />
Jika besar bapanya letih.<br />
Apabila banyak mencela orang,<br />
Itulah tanda dirinya kurang.<br />
Apabila orang yang banyak tidur,<br />
Sia-sia sahajalah umur.<br />
Apabila mendengar akan khabar,<br />
Menerimanya itu hendaklah sabar.<br />
Apabila menengar akan aduan,<br />
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan.<br />
Apabila perkataan yang lemah-lembut,<br />
Lekaslah segala orang mengikut.<br />
Apabila perkataan yang amat kasar,<br />
Lekaslah orang sekalian gusar.<br />
Apabila pekerjaan yang amat benar,<br />
Tidak boleh orang berbuat honar.</em></p>
<p><strong>Delapan</strong></p>
<p>Ini Gurindam pasal yang kedelapan:</p>
<p><em>Barang siapa khianat akan dirinya,<br />
Apalagi kepada lainnya.<br />
Kepada dirinya ia aniaya,<br />
Orang itu jangan engkau percaya.<br />
Lidah yang suka membenarkan dirinya,<br />
Daripada yang lain dapat kesalahannya.<br />
Daripada memuji diri hendaklah sabar,<br />
Biar dan pada orang datangnya khabar.<br />
Orang yang suka menampakkan jasa,<br />
Setengah daripada syirik mengaku kuasa.<br />
Kejahatan diri sembunyikan,<br />
Kebaikan diri diamkan.<br />
Keaiban orang jangan dibuka,<br />
Keaiban diri hendaklah sangka.</em></p>
<p><strong>Sembilan</strong></p>
<p>Ini Gurindam pasal yang kesembilan:</p>
<p><em>Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,<br />
Bukannya manusia yaituiah syaitan.<br />
Kejahatan seorang perempuan tua,<br />
Itulah iblis punya penggawa.<br />
Kepada segaia hamba-hamba raja,<br />
Di situlah syaitan tempatnya manja.<br />
Kebanyakan orang yang muda-muda,<br />
Di situlah syaitan tempat bergoda.<br />
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,<br />
Di situlah syaitan punya jamuan.<br />
Adapun orang tua yang hemat,<br />
Syaitan tak suka membuat sahabat<br />
Jika orang muda kuat berguru,<br />
Dengan syaitan jadi berseteru.</em></p>
<p><strong>Sepuluh</strong></p>
<p>Ini Gurindam pasal yang kesepuluh:</p>
<p><em>Dengan bapa jangan durhaka,<br />
Supaya Allah tidak murka.<br />
Dengan ibu hendaklah hormat,<br />
Supaya badan dapat selamat.<br />
Dengan anak janganlah lalai,<br />
Supaya boleh naik ke tengah balai.<br />
Dengan kawan hendaklah adil,</em></p>
<p><em>Supaya tangannya jadi kapil.</em></p>
<p><strong>Sebelas</strong></p>
<p>Ini Gurindam pasal yang kesebelas:</p>
<p><em>Hendaklah berjasa,<br />
Kepada yang sebangsa.<br />
Hendaklah jadi kepala,<br />
Buang perangai yang cela.<br />
Hendaklah memegang amanat,<br />
Buanglah khianat.<br />
Hendak marah,<br />
Dahulukan hujjah.<br />
Hendak dimalui,<br />
Jangan memalui.<br />
Hendak ramai,<br />
Murahkan perangai.</em></p>
<p><strong>Duabelas</strong></p>
<p>Ini Gurindam pasal yang kedua belas:</p>
<p><em>Raja mufakat dengan menteri,<br />
Seperti kebun berpagarkan duri.<br />
Betul hati kepada raja,<br />
Tanda jadi sebarang kerja.<br />
Hukum ‘adil atas rakyat,<br />
Tanda raja beroleh ‘inayat.<br />
Kasihkan orang yang berilmu,<br />
Tanda rahmat atas dirimu.<br />
Hormat akan orang yang pandai,<br />
Tanda mengenal kasa dan cindai.<br />
Ingatkan dirinya mati,<br />
Itulah asal berbuat bakti.<br />
Akhirat itu terlalu nyata,<br />
Kepada hati yang tidak buta.</em></p>
<p>Tamatlah Gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga likur hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima, Negeri Riau, Pulau Penyengat.</p>
<p><strong>Keterangan :</strong></p>
<p><em>Bakhil </em>; kikir atau pelit</p>
<p><em>Balai </em>: rumah tempat menanti raja (di antara kediaman raja-raja)</p>
<p><em>Bachri</em> : hal mengenai lautan (luas)</p>
<p><em>Berperi</em> : berkata-kata</p>
<p><em>Cindai</em> : kain sutra yang berbunga-bunga</p>
<p><em>Damping </em>: dekat, karib, atau akrab</p>
<p><em>Fi’il </em>:<em> </em>tingkah laku, perbuatan</p>
<p><em>Hujjah</em> : tanda, bukti, atau alasan</p>
<p><em>Inayat</em> : pertolongan atau bantuan</p>
<p><em>Kafill</em> : majikan atau orang yang menanggung kerja</p>
<p><em>Kasa</em> : kain putih yang halus</p>
<p><em>Ketor</em> : tempat ludah (ketika makan sirih), peludahan</p>
<p><em>Ma’rifat </em>:<em> </em>tingkat penyerahan diri kepada Tuhan yang setahap demi setahap sampai pada tingkat keyakinan           yang kuat</p>
<p><em>Menyalah </em>:<em> </em>melakukan kesalahan</p>
<p><em>Mudarat </em>: sesuatu yang tidak menguntungkan atau tidak berguna</p>
<p><em>Pekong </em>: <em>(pekung) </em>penyakit kulit yang berbau busuk</p>
<p><em>Penggawa</em> : kepala pasukan, kepala desa</p>
<p><em>Perangai</em> : sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan perbuatan</p>
<p><em>Senonoh</em> : perkataan, perbuatan, atau penampilan yang tidak patut (tidak sopan)</p>
<p><em>Tegah</em> : menghentikan</p>
<p><em>Teperdaya</em> : tertipu</p>
<p><em>Termasa</em> : tamasya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prastna.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prastna.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prastna.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prastna.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prastna.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prastna.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prastna.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prastna.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prastna.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prastna.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prastna.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prastna.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prastna.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prastna.wordpress.com/186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=186&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prastna.wordpress.com/2012/01/10/gurindam-dua-belas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c1a5524bf863d326dd2c23f20e05ef3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prastna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://prastna.files.wordpress.com/2012/01/gurindam-12-a.jpg?w=150" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SINGKATAN &amp; AKRONIM</title>
		<link>http://prastna.wordpress.com/2012/01/05/singkatan-akronim/</link>
		<comments>http://prastna.wordpress.com/2012/01/05/singkatan-akronim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 14:33:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prastna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebahasaan]]></category>
		<category><![CDATA[akronim]]></category>
		<category><![CDATA[penulisan gelar]]></category>
		<category><![CDATA[penulisan nama lembaga]]></category>
		<category><![CDATA[singkatan]]></category>
		<category><![CDATA[singkatan/akronim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prastna.wordpress.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[SINGKATAN Bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. 1. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik Contoh: R. Budi Prasetyo, S. Pd. Muh. Yamin Kol. Sugiyono Suman Hs. 2. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=178&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SINGKATAN</strong></p>
<p>Bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.</p>
<p>1. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik</p>
<p>Contoh:</p>
<p>R. Budi Prasetyo, S. Pd.</p>
<p>Muh. Yamin</p>
<p>Kol. Sugiyono</p>
<p>Suman Hs.</p>
<p>2. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik</p>
<p>Contoh:</p>
<p>DPR</p>
<p>PGRI</p>
<p>KTP</p>
<p>SMA</p>
<p>3. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik</p>
<p>Contoh:</p>
<p>dll.</p>
<p>dsb.</p>
<p>Yth.</p>
<p>hlm.</p>
<p>Tetapi:</p>
<p>a.n.</p>
<p>d.a.</p>
<p>u.p.</p>
<p>4. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik</p>
<p>Contoh: <span id="more-178"></span></p>
<p>Cu                           : kuprum</p>
<p>TNT                        : trinitrotoluen</p>
<p>cm                          : sentimeter</p>
<p>kg                           : kilogram</p>
<p>Rp                           : rupiah</p>
<p><strong>AKRONIM</strong></p>
<p>Singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.</p>
<p>1.  Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital</p>
<p>Contoh:</p>
<p>ABRI</p>
<p>LAN</p>
<p>IKIP</p>
<p>2. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.</p>
<p>Contoh:</p>
<p>Akabri</p>
<p>Lemhanas</p>
<p>Polri</p>
<p>Pertamina</p>
<p>3. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun, gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.</p>
<p>Contoh:</p>
<p>pemilu : pemilihan umum</p>
<p>radar     : radio detecting and ranging</p>
<p>tilang     : bukti pelanggaran</p>
<p>rudal      : peluru kendali</p>
<p><em><strong>Catatan:</strong></em></p>
<p>Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut:</p>
<p>1. Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia</p>
<p>2. Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata           Indonesia yang lazim.</p>
<p>(Sumber: Buku EYD)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prastna.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prastna.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prastna.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prastna.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prastna.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prastna.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prastna.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prastna.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prastna.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prastna.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prastna.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prastna.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prastna.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prastna.wordpress.com/178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=178&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prastna.wordpress.com/2012/01/05/singkatan-akronim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c1a5524bf863d326dd2c23f20e05ef3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prastna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imbuhan</title>
		<link>http://prastna.wordpress.com/2012/01/03/imbuhan/</link>
		<comments>http://prastna.wordpress.com/2012/01/03/imbuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 15:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prastna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebahasaan]]></category>
		<category><![CDATA[akhiran -an]]></category>
		<category><![CDATA[akhiran -i]]></category>
		<category><![CDATA[akhiran -kan]]></category>
		<category><![CDATA[akhiran hasil serapan]]></category>
		<category><![CDATA[akhiran serapan]]></category>
		<category><![CDATA[awalan se-]]></category>
		<category><![CDATA[Imbuhan]]></category>
		<category><![CDATA[imbuhan di-]]></category>
		<category><![CDATA[imbuhan ter-awalan pe-]]></category>
		<category><![CDATA[inbuhan me-]]></category>
		<category><![CDATA[infiks]]></category>
		<category><![CDATA[prefiks]]></category>
		<category><![CDATA[sufiks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prastna.wordpress.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[AWALAN (prefiks) Awalan adalah imbuhan yang diberikan di awal kata. Contoh : me-, ber- di-, ke-, pe-, ter- Awalan me – Pemakaian awalan me- bervariasi yaitu mem-, men-, meny-, meng-, dan menge- Contoh : melapor, membaca, menarik, menyanyi, menghitung, dan mengecat Makna awalan me- : 1. Melakukan perbuatan/tindakan. Contoh : mengambil, menjual. 2. Melakukan perbuatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=171&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AWALAN (prefiks)<br />
Awalan adalah imbuhan yang diberikan di awal kata.<br />
Contoh : me-, ber- di-, ke-, pe-, ter-</p>
<p>Awalan me –<br />
Pemakaian awalan me- bervariasi yaitu mem-, men-, meny-, meng-, dan menge-<br />
Contoh : melapor, membaca, menarik, menyanyi, menghitung, dan mengecat</p>
<p>Makna awalan me- :<br />
1. Melakukan perbuatan/tindakan.<br />
Contoh : mengambil, menjual.</p>
<p>2. Melakukan perbuatan dengan alat.<br />
Contoh : memotong, menyapu.</p>
<p>3. Menjadi atau dalam keadaan.<br />
Contoh : menurun, meluap.</p>
<p>4. Membuat kesan.<br />
Contoh : mengalah, membisu.</p>
<p>5. Menuju ke.<br />
Contoh : mendarat, menepi.</p>
<p>6. Mencari.<br />
Contoh : mendamar, merotan.</p>
<p>Awalan ber-<br />
Pemakaian awalan ber- mempunyai kaidah sebagai berikut.<br />
1. Apabila diikuti kata dasar yang berhuruf (r) dan beberapa kata dasar yang suku pertamanya berakhir huruf (er), bentuk awalan ber berubah menjadi be-.<br />
Contoh : ber + rantai à berantai<br />
ber + kerja à bekerja</p>
<p>2. Apabila awalan ber- bertemu dengan kata dasar ajar, ber- berubah menjadi bel-<br />
Contoh : ber + ajar à belajar</p>
<p>3. Apabila awalan ber- diikuti kata dasar selain yang disebutkan di atas, ber- tetap tanpa perubahan.<br />
Contoh : ber + lari à berlari<br />
ber + nyanyi à bernyanyi</p>
<p>Makna awalan ber-<span id="more-171"></span><br />
1. Mempunyai.<br />
Contoh : beranak, berhasil</p>
<p>2. Memakai/menggunakan/mengendarai.<br />
Contoh : bersepeda, bersepatu</p>
<p>3. Mengeluarkan.<br />
Contoh : berkata, bertelur</p>
<p>4. Menyatakan sikap mental.<br />
Contoh : berbahagia, berbaik hati.</p>
<p>5. Menyatakan jumlah.<br />
Contoh : berdua, berempat.</p>
<p>Awalan di-<br />
Awalan di mempunyai makna suatu perbuatan aktif. Awalan di- merupakan kebalikan dari awalan me- yang bermakna aktif.<br />
Contoh : di + siram à disiram<br />
di + tanam à ditanam<br />
di + beli à dibeli</p>
<p>Awalan ter-<br />
1. Awalan ter- hampir sama dengan awalan di-. Awaln ter- berfungsi untuk membentuk kata kerja pasif.<br />
Contoh : ter + tendang à tertendang<br />
i. ter + bakar à terbakar</p>
<p>2. Awalan ter- ada pula yang termasuk golongan kata sifat.<br />
Contoh : ter + pandai à terpandai<br />
i. ter + kecil à terkecil</p>
<p>Makna awalan ter-<br />
1. Sudah di atau dapat di.<br />
Contoh : tertutup, terbuka.</p>
<p>2. Ketidaksengajaan.<br />
Contoh : terbawa, terlihat.</p>
<p>3. Tiba-tiba.<br />
Contoh : teringat, terjatuh.</p>
<p>4. Dapat atau kemungkinan.<br />
Contoh : ternilai, terbagus.</p>
<p>5. Pelaing atau super.<br />
Contoh : terpandai, tertua.</p>
<p>AWALAN pe-(n)<br />
Pemakaian awalan pe-(n) memiliki variasi sebagaimana yang berkalu pada awalan me-(n).</p>
<p>Makna awalan pe-(n) :<br />
1. Menyatakan yang melakukan perbuatan.<br />
Contoh : penulis, pembaca.</p>
<p>2. Menyatakan pekerjaan.<br />
Contoh : perpanjang, perlebar.</p>
<p>3. Menyatakan alat.<br />
Contoh : penghapus, penggaris.</p>
<p>4. Menyatakan memiliki sifat.<br />
Contoh : pemaaf, pemalu.</p>
<p>5. Menyatakan penyebab.<br />
Contoh : pemanis, pemutih</p>
<p>AWALAN pe-<br />
Umumnya tidak bias digunakan secara mandiri. Pemakaian awlan per- membutuhkan imbuhan lain misalnya –kan dan –an.<br />
Contoh : per-kan + kembang à perkembangan<br />
per-an + usaha à perusahaan</p>
<p>AWALAN se-<br />
Makna awalan se-<br />
1. Menyatakan satu.<br />
Contoh : selembar, seribu.</p>
<p>2. Menyatakan seluruh.<br />
Contoh : sekota, sedesa.</p>
<p>3. Menyatakan sama.<br />
Contoh : sepandai, seindah.</p>
<p>4. Menyatakan setelah.<br />
Contoh : sekembali</p>
<p>AWALAN ke-<br />
Makna awalan ke-<br />
1. Menyatakan kumpulan yang terdiri dari jumlah.<br />
Contoh : kesebelasan.</p>
<p>2. Menyatakan urutan.<br />
Contoh : kesatu, kedua, ketiga</p>
<p>SISIPAN (infiks)<br />
Sisipan adalah imbuhan yang diberikan di tengah kata.<br />
Contoh : -el, -em, dan –er.</p>
<p>Makna sisipan :<br />
1. Menyatakan internsitas atau frekuensi.<br />
Contoh : geletar, gemetar</p>
<p>2. Menyatakan banyak dan bermacam-macam.<br />
Contoh : temali, gemerincing</p>
<p>3. Memiliki sifat yang disebut dalam kata dasarnya.<br />
Contoh : temurun, gemilang, telunjuk, pelatuk, gelembung, telapak</p>
<p>AKHIRAN (sufiks)<br />
Imbuhan yang diberikan di akhir kata.<br />
Contoh : -kan, -I, -an, -kah, -tah, dan –pun.</p>
<p>Akhiran –kan<br />
Makna akhiran –kan :<br />
1. Secara umum mengandung arti perintah.<br />
Contoh :<br />
Dengarkan baik-baik !</p>
<p>2. Menyatakan sebagai alat atau membuat dengan.<br />
Contoh :<br />
menusukkan pisau, melemparkan batu</p>
<p>3. Menyebabkan atau menjadikan sesuatu.<br />
Contoh :<br />
membesarkan, menjatuhkan</p>
<p>4. Menyatakan arti bahwa suatu pekerjaan dilakukan untuk orang lain.<br />
Contoh :<br />
meminjamkan, mengembalikan</p>
<p>5. Mentransitifkan kata kerja ke dinding<br />
Contoh :<br />
memantulkan</p>
<p>Akhiran -i<br />
Makna akhiran –I :<br />
1. Mengandung arti membentuk kalimat perintah.<br />
Contoh :<br />
Turuti perintahnya !</p>
<p>2. Menyebabkan sesuatu jadi.<br />
Contoh :<br />
menyakiti hati, menghargai dia</p>
<p>3. Menyarakan intensitas (pekerjaan yang berulang-ulang)<br />
Contoh :<br />
menembaki, memukuli</p>
<p>Akhiran –an<br />
Makna akhiran –an<br />
1. Menyatakan tempat.<br />
Contoh : pangkalan, kubangan</p>
<p>2. Menyatakan alat.<br />
Contoh : ayunan, timbangan</p>
<p>3. Menyatakan hal atau cara.<br />
Contoh : didikan, pimpinan</p>
<p>4. Menyatakan akibat, hasil perbuatan.<br />
Contoh : hukuman, balasan</p>
<p>5. Menyatakan sesuatu yang di.<br />
Contoh : catatan, suruhan</p>
<p>6. Menyatakan seluruh, kumpulan.<br />
Contoh : lautan, sayuran</p>
<p>7. Menyatakan menyerupai.<br />
Contoh : anak-anakan, kuda-kudaan</p>
<p>8. Menyatakan tiap-tiap.<br />
Contoh : tahunan, mingguan</p>
<p>9. Menyatakan mempunyai sifat.<br />
Contoh : asinan, manisan</p>
<p>Akhiran –isme dan –isasi<br />
Merupakan jenis imbuhan serapan.</p>
<p>Makna akhiran –isme adalah paham atau ajaran :<br />
Contoh : komunisme, animisme, liberalisme</p>
<p>Makna akhiran –isasi adalah proses atau menjadikan sesuatu.<br />
Contoh : swastanisasi, lebelisasi</p>
<p>Akhiran – i , &#8211; iah, &#8211; is, &#8211; wi<br />
Merupakan jenis imbuhan serapan.<br />
- i berasal dari bahasa Inggris.<br />
- iah, &#8211; is, &#8211; wi berasal dari bahasa Arab</p>
<p>Makna akhiran – i, &#8211; iah, &#8211; is, &#8211; wi adalah membentuk kata sifat.<br />
Contoh : insani : memiliki sifat keinsanian<br />
alamiah : memiliki sifat alamiah, natural<br />
agamais : menujukkan sifat orang yang taat beragama<br />
manusiawi : bersifat kemanusiaa<br />
AWALAN DAN AKHIRAN (konfiks)<br />
Awalan dan akhiran adalah imbuhan yang berupa gabungan dari awalan dan akhiran.<br />
Contoh : me-kan, pe-an, ber-an, se-nya, meper-kan</p>
<p>Awalan dan Akhiran me-kan, dan memper-kan<br />
Makna me-kan:<br />
1. Melakukan pekerjaan orang lain.<br />
Contoh : Adik memesankan ibu makanan.</p>
<p>2. Menyebabkan atau membuat jadi.<br />
Contoh : Lemparan bola itu memecahkan kaca jendela kamar.</p>
<p>3. Melakukan perbuatan.<br />
Contoh : Gajah menyemburkan air dari belalainya.</p>
<p>4. Mengarahkan.<br />
Contoh : Ayah meminggirkan kendaraannya.</p>
<p>5. Memasukkan.<br />
Contoh : Polisi memenjarakan penjahat itu di tahanan POLDA.</p>
<p>Makna memper-kan :<br />
1. Menyebabkan atau membuat jadi :<br />
Contoh : Rini mempertotonkan kebolehannya bermain biola.</p>
<p>Awalan dan Akhiran ber &#8211; an<br />
Makna :<br />
1. Menyatakan jumlah pelaku yang banyak.<br />
Contoh : berdatangan, berterbangan</p>
<p>2. Menyatakan perbuatan yang berulang-ulang<br />
Contoh : bergulingan, berlompatan</p>
<p>3. Menyatakan hubungan antara dua pihak.<br />
Contoh : bersamaan, bersebelahan, berduaan.</p>
<p>4. Menyatakan hubungan timbal balik.<br />
Contoh : bersahutan, bersalaman</p>
<p>Awalan dan Akhiran pe – an<br />
Makna :<br />
1. Menyatakan hal<br />
Contoh : pendidikan, penanaman</p>
<p>2. Menyatakan proses atau perbuatan.<br />
Contoh : pendaftaran, penelitian.</p>
<p>3. Menyatakan hasil.<br />
Contoh : pengakuan, peghasilan</p>
<p>4. Menyatakan tempat.<br />
Contoh : penampungan, pemandian</p>
<p>5. Menyatakan alat.<br />
Contoh : penglihatan, pendengaran</p>
<p>Awalan dan Akhiran per- an<br />
Makna :<br />
1. Menyatakan tempat.<br />
Contoh : perhentian, perusahaan</p>
<p>2. Menyatakan daerah.<br />
Contoh : perempatan, pertigaan</p>
<p>3. Menyatakan hasil perbuatan.<br />
Contoh : pertahanan, perbuatan</p>
<p>4. Menyatakan perihal.<br />
Contoh : perbukuan, perkelahian</p>
<p>5. Menyatakan banyak.<br />
Contoh : persyaratan, persaudaraan</p>
<p>Awalan dan Akhiran se –nya<br />
Makna :<br />
1. Menyatakan makna tingkatan yang paling tinggi yang dapat dicapai.<br />
Contoh : sebagus-bagusnya, setinggi-tingginya</p>
<p>2. Sering disertai dengan kata ulang.<br />
Contoh : sebaik-baiknya, semerah-merahnya</p>
<p>(Sumber:http://bilikide.blogspot.com/2009/11/imbuhan.html)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prastna.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prastna.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prastna.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prastna.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prastna.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prastna.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prastna.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prastna.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prastna.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prastna.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prastna.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prastna.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prastna.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prastna.wordpress.com/171/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=171&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prastna.wordpress.com/2012/01/03/imbuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c1a5524bf863d326dd2c23f20e05ef3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prastna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KISI-KISI UN 2011-2012</title>
		<link>http://prastna.wordpress.com/2011/12/18/kisi-kisi-uan-2011-2012/</link>
		<comments>http://prastna.wordpress.com/2011/12/18/kisi-kisi-uan-2011-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 06:24:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prastna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Macam-Macam]]></category>
		<category><![CDATA[bsnp]]></category>
		<category><![CDATA[kisi-kisi]]></category>
		<category><![CDATA[kisi-kisi sma]]></category>
		<category><![CDATA[kisi-kisi smk]]></category>
		<category><![CDATA[kisi-kisi smp]]></category>
		<category><![CDATA[kisi-kisi uan 2012]]></category>
		<category><![CDATA[kisi-kisi uan kisi-kisi uan 2011-2012]]></category>
		<category><![CDATA[kisi-kisi ujian nasional 2012]]></category>
		<category><![CDATA[kisi-kisi ujian nasional sma 2012]]></category>
		<category><![CDATA[kisi-kisi un ma 2011-2012]]></category>
		<category><![CDATA[kisi-kisi un sd 2011-2012]]></category>
		<category><![CDATA[kisi-kisi un sma]]></category>
		<category><![CDATA[kisi-kisi un sma 2011-2012]]></category>
		<category><![CDATA[kisi-kisi un smk 2011-2012]]></category>
		<category><![CDATA[kisi-kisi un smp 2011-2012]]></category>
		<category><![CDATA[Kisi-kisi un2012]]></category>
		<category><![CDATA[uan]]></category>
		<category><![CDATA[uan bsnp]]></category>
		<category><![CDATA[uan sma]]></category>
		<category><![CDATA[un 2011-2012]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prastna.wordpress.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Bagi rekan-rekan yang membutuhkan kisi-kisi Ujian Nasional (UN) 2011-2012 dapat anda download di link  dibawah ini, download Kisi-Kisi UN SMP-SMA-MA-SMK 2011-2012 download Kisi-kisi UN SD-MI 2011-2012<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=159&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi rekan-rekan yang membutuhkan kisi-kisi Ujian Nasional (UN) 2011-2012 dapat anda download di link  dibawah ini,</p>
<p><a title="Kisi-Kisi UAN 2011-2012" href="http://www.ziddu.com/download/17860795/isi-Kisi-Untuk-SMP-MTs-SMPLB-SMA-MA-SMALB-dan-SMK1.pdf.html" target="_blank"><strong>download <em>Kisi-Kisi UN SMP-SMA-MA-SMK</em></strong><em> <strong>2011-2012</strong></em></a></p>
<p><a title="Kisi-Kisi UN 2011-2012 SD-MI" href="http://www.ziddu.com/download/17860869/Kisi-Kisi-Untuk-SD-MI1.pdf.html" target="_blank"><strong>download <em>Kisi-kisi UN SD-MI 2011-2012</em></strong></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prastna.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prastna.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prastna.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prastna.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prastna.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prastna.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prastna.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prastna.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prastna.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prastna.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prastna.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prastna.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prastna.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prastna.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=159&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prastna.wordpress.com/2011/12/18/kisi-kisi-uan-2011-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c1a5524bf863d326dd2c23f20e05ef3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prastna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Majas/ Gaya Bahasa</title>
		<link>http://prastna.wordpress.com/2011/11/23/majas-gaya-bahasa/</link>
		<comments>http://prastna.wordpress.com/2011/11/23/majas-gaya-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 08:21:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prastna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebahasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesastraan]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa figuratif]]></category>
		<category><![CDATA[contoh gaya bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[contoh majas]]></category>
		<category><![CDATA[gaya bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[jenis majas]]></category>
		<category><![CDATA[kata-kata kias]]></category>
		<category><![CDATA[macam gaya bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[macam majas]]></category>
		<category><![CDATA[macam-macam gaya bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[macam-macam majas]]></category>
		<category><![CDATA[majas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prastna.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Majas atau gaya bahasa adalah bahasa kias yang digunakan untuk mempertajam maksud. Majas dibagi menjadi 4 (empat) macam: a. Majas perbandingan b. Majas pertentangan c. Majas pertautan d. Majas perulangan Berikut beberapa contoh majas: Majas Metafora : Gabungan dua hal yang berbeda yang dapat membentuk suatu pengertian baru. Contoh : Sampah masyarakat, raja siang, kambing [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=112&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Majas atau gaya bahasa</strong> adalah bahasa kias yang digunakan untuk mempertajam maksud.</p>
<p>Majas dibagi menjadi 4 (empat) macam:</p>
<p>a. Majas perbandingan</p>
<p>b. Majas pertentangan</p>
<p>c. Majas pertautan</p>
<p>d. Majas perulangan</p>
<p>Berikut beberapa contoh majas:</p>
<ol>
<li><strong>Majas Metafora</strong> : Gabungan dua hal yang berbeda yang dapat membentuk suatu pengertian baru.<br />
Contoh : Sampah masyarakat, raja siang, kambing hitam</li>
<li><strong>Majas Alegori</strong> : Majas perbandingan yang memperlihatkan suatu perbandingan yang utuh.<br />
Contoh : Suami sebagai nahkoda, Istri sebagai juru mudi</li>
<li><strong>Majas Personifikasi</strong> : Majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat – sifat manusia kepada benda,    sehingga benda mati seolah-olah hidup.<br />
Contoh : Angin berbisik dan ombak berkejar-kejaran<span id="more-112"></span></li>
<li><strong>Majas Perumpamaan ( Majas Asosiasi )</strong> : Suatu perbandingan dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.<br />
Contoh : Bagaikan pinang dibelah dua</li>
<li><strong>Majas Antitesis</strong> : Gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berlawanan.<br />
Contoh : Air susu dibalas air tuba</li>
<li><strong>Majas Hiperbola</strong> : Suatu gaya bahasa yang bersifat melebih – lebihkan.<br />
Contoh : Air matanya menganak sungai</li>
<li><strong>Majas Ironi</strong> : Gaya bahasa yang bersifat menyindir dengan halus.<br />
Contoh: Bagus sekali tulisanmu, sampai – sampai tidak bisa dibaca</li>
<li><strong>Majas Litotes</strong> : Majas yang digunakan untuk mengecilkan kenyataan dengan tujuan untuk merendahkan hati<br />
Contoh : Mampirlah ke gubuk saya</li>
<li><strong>Majas Sinisme</strong> : Majas yang menyatakan sindiran secara langsung.<br />
Contoh : Perilakumu membuatku kesa</li>
<li><strong>Majas Oksimoron</strong> : Majas yang antarbagiannya menyatakan sesuatu yang bertentangan.<br />
Contoh : Cinta membuatnya bahagia, tetapi juga membuatnya menangis</li>
<li><strong>Majas Metonimia</strong> : Majas yang memakai merek suatu barang.<br />
Contoh : Ayah ke Jakarta naik garuda<br />
Kakak ke sekolah naik honda</li>
<li><strong>Majas Alusio</strong> : Majas yang mepergunakan peribahasa / kata – kata yang artinya diketahui umum.<br />
Contoh : Upacara ini mengingatkan aku pada proklamasi kemerdekaan tahun 1945</li>
<li><strong>Majas Eufemisme</strong> : Majas yang menggunakan kata – kata / ungkapan halus / sopan.<br />
Contoh : Para tunakarya itu perlu diperhatikan</li>
<li><strong>Majas Elipsis</strong> : Majas yang manghilangkan suatu unsur kalimat.<br />
Contoh : Kami ke rumah nenek ( penghilangan predikat pergi )</li>
<li><strong>Majas Pleonasme</strong> : Majas yang menggunakan kata – kata secara berlebihan dengan maksud untuk<br />
menegaskan arti.<br />
Contoh : Mari naik ke atas agar dapat melihat pemandangan</li>
<li><strong>Majas Antiklimaks</strong> : Majas yang menyatakan sesuatu hal berturut – turut yang makin lama makin menurun.<br />
Contoh : Para bupati, para camat, dan para kepala desa</li>
<li><strong>Majas Klimaks</strong> : Majas yang menyatakan beberapa hal berturut – turut yang makin lama makin mendebat<br />
Contoh : Semua anak – anak, remaja, dewasa, orang tua dan kakek</li>
<li><strong>Majas Retoris</strong> : Majas yang berupa kalimat tanya yang jawabanya sudah diketahui.<br />
Contoh : Siapakah yang tidak ingin masuk surga ?</li>
<li><strong>Majas Aliterasi</strong> : Majas yang memanfaatkan kata – kata yang bunyi awalnya sama.<br />
Contoh : Inikah Indahnya Impian ?</li>
<li><strong>Majas Antanaklasis</strong> : Majas yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda.<br />
Contoh : Ibu membawa buah tangan, yaitu buah apel merah</li>
<li><strong>Majas Repetisi</strong> : Majas perulangan kata – kata sebagai penegasan.<br />
Contoh : Selamat tinggal pacarku, selamat tinggal kekasihku, selamat tinggal pujaanku</li>
<li><strong>Majas Paralelisme</strong> : Majas perulangan sebagaimana halnya repetisi, disusun dalam baris yang berbeda.<br />
Contoh : Hati ini biru Hati ini lagu Hati ini debu</li>
<li><strong>Majas Kiasmus</strong> : Majas yang berisi perulangan dan sekaligus mengandung inverse.<br />
Contoh : Mereka yang kaya merasa miskin, dan yang miskin merasa kaya</li>
<li><strong>Majas Antonomasia</strong> : Majas yang menyebutkan nama lain terhadap seseorang yang berdasarkan ciri/sifat menonjol yang dimilikinya.<br />
Contoh : Si pincang, Si jangkung, Si kribo</li>
<li><strong>Majas Tautologi</strong> : Majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan kata – kata yang sama artinya<br />
(bersinonim) untuk mempertegas arti.<br />
Contoh : Saya khawatir dan was – was dengannya</li>
<li style="text-align:left;"><strong>Majas Sinekdoke</strong>: Majas yang menyebut sebagian untuk keseluruhan <strong>(pars pro toto)</strong> atau keseluruhan untuk sebagian <strong>(totum pro part)</strong>.                                                                        Contoh: Dari jauh sudah kelihatan batang hidungnya <strong>(pars pro toto)</strong>.  Indonesia menang dalam pertandingan  sepak  bola itu <strong>(totum pro part)</strong></li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prastna.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prastna.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prastna.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prastna.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prastna.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prastna.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prastna.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prastna.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prastna.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prastna.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prastna.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prastna.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prastna.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prastna.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=112&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prastna.wordpress.com/2011/11/23/majas-gaya-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c1a5524bf863d326dd2c23f20e05ef3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prastna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sudut Pandang Pengarang Cerpen/ Novel</title>
		<link>http://prastna.wordpress.com/2011/11/17/sudut-pandang-pengarang-cerpen-novel/</link>
		<comments>http://prastna.wordpress.com/2011/11/17/sudut-pandang-pengarang-cerpen-novel/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 02:53:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prastna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[jenis sudut pandang]]></category>
		<category><![CDATA[macam sudut pandang]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[penceriteraan]]></category>
		<category><![CDATA[point of view]]></category>
		<category><![CDATA[Sudut pandang]]></category>
		<category><![CDATA[unsur intrinsik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prastna.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[1. Sudut Pandang Orang Pertama sebagai Pelaku Utama Dalam sudut pandang teknik ini, si ”aku” mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah, dalam diri sendiri, maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya. Si ”aku”menjadi fokus pusat kesadaran, pusat cerita. Segala sesuatu yang di luar diri si ”aku”, peristiwa, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=85&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. Sudut Pandang Orang Pertama sebagai Pelaku Utama<br />
</strong><br />
Dalam sudut pandang teknik ini, si ”aku” mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah, dalam diri sendiri, maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya. Si ”aku”menjadi fokus pusat kesadaran, pusat cerita. Segala sesuatu yang di luar diri si ”aku”, peristiwa, tindakan, dan orang, diceritakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, di samping memiliki kebebasan untuk memilih masalah-masalah yang akan diceritakan. Dalam cerita yang demikian,si ”aku” menjadi tokoh utama (first person central).</p>
<p><strong>Contoh:</strong><br />
Pagi ini begitu cerah hingga mampu mengubah suasana jiwaku yang tadinya penat karena setumpuk tugas yang masih terbengkelai menjadi sedikit teringankan. Namun, aku harus segera bangkit dari tidurku dan bergegas mandi karena pagi ini aku harus meluncur ke Kedubes Australia untuk mengumpulkan berita yang harus segera aku laporkan hari ini juga. <span id="more-85"></span></p>
<p><strong>2. Sudut Pandang Orang Pertama sebagai Pelaku Sampingan<br />
</strong><br />
Dalam sudut pandang ini, tokoh ”aku” muncul bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan (first pesonal peripheral). Tokoh ”aku” hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian ”dibiarkan” untuk mengisahkan sendiri berbagai pengalamannya. Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah cerita tokoh utama habis, si ”aku”tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah.<br />
Dengan demikian si ”aku” hanya tampil sebagai saksi saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si ”aku” pada umumnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita.</p>
<p><strong>Contoh:</strong><br />
Deru beribu-ribu kendaraan yang berlalu-lalang serta amat membisingkan telinga menjadi santapan sehari-hariku setelah tiga bulan aku tinggal di kota metropolitan ini. Memang tak mudah untuk menata hati dan diriku menghadapi suasana kota besar, semacam Jakarta, bagi pendatang seperti aku. Dulu, aku sempat menolak untuk dipindahkan ke kota ini. Tapi, kali ini aku tak kuasa untuk menghindar dari tugas ini, yang konon katanya aku sangat dibutuhkan untuk ikut memajukan perusahaan tempatku bekerja.<br />
Ternyata, bukan aku saja yang mengalami mutasi kali ini. Praba, teman satu asramaku , juga mengalami hal yang sama. Kami menjadi sangat akrab karena merasa satu nasib, harus beradaptasi dengan suasana Kota Jakarta.<br />
“Aku bisa stress kalau setiap hari harus terjebak macet seperti ini. Apakah tidak upaya dari Pemkot DKI mengatasi masalah ini! Rasanya, mendingan posisiku seperti dulu asal tidak di kota ini!” umpatnya.</p>
<p><strong>3. Sudut Pandang Orang Ketiga Serbatahu<br />
</strong><br />
Dalam sudut pandang ini, cerita dikisahkan dari sudut ”dia”, namun pengarang, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh ”dia” tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan, termasuk motivasi yang melatarbelakanginya. Ia bebas bergerak dan menceritakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat cerita, berpindah-pindah dari tokoh ”dia”yang satu ke ”dia” yang lain, menceritakan atau sebaliknya ”menyembunyikan” ucapan dan tindakan tokoh, bahkan juga yang hanya berupa pikiran, perasaan, pandangan, dan motivasi tokoh secara jelas, seperti halnya ucapan dan tindakan nyata.</p>
<p><strong>Contoh:</strong><br />
Sudah genap satu bulan dia menjadi pendatang baru di komplek perumahan ini. Tapi, belum satu kali pun dia terlihat keluar rumah untuk sekedar beramah-tamah dengan tetangga yang lain, berbelanja, atau apalah yang penting dia keluar rumah.<br />
“Apa mungkin dia terlalu sibuk, ya?” celetuk salah seorang tetangganya. “Tapi, masa bodoh! Aku tak rugi karenanya dan dia juga tak akan rugi karenaku.”<br />
Pernah satu kali dia kedatangan tamu yang kata tetangga sebelah adalah saudaranya. Memang dia sosok introvert, jadi walaupun saudaranya yang datang berkunjung, dia tidak bakal menyukainya.</p>
<p><strong>4. Sudut Pandang Orang Ketiga sebagai Pengamat<br />
</strong><br />
Dalam sudut pandang ”dia” terbatas, seperti halnya dalam”dia”mahatahu, pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun terbatas hanya pada seorang tokoh saja atau terbatas dalam jumlah yang sangat terbatas. Tokoh cerita mungkin saja cukup banyak, yang juga berupa tokoh ”dia”, namun mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh pertama.</p>
<p><strong>Contoh:</strong><br />
Entah apa yang terjadi dengannya. Datang-datang ia langsung marah. Memang kelihatannya ia punya banyak masalah. Tapi kalau dilihat dari raut mukanya, tak hanya itu yang ia rasakan. Tapi sepertinya ia juga sakit. Bibirnya tampak kering, wajahnya pucat,dan rambutnya kusut berminyak seperti satu minggu tidak terbasuh air. Tak satu pun dari mereka berani untuk menegurnya, takut menambah amarahnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prastna.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prastna.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prastna.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prastna.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prastna.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prastna.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prastna.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prastna.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prastna.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prastna.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prastna.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prastna.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prastna.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prastna.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prastna.wordpress.com&amp;blog=25160047&amp;post=85&amp;subd=prastna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prastna.wordpress.com/2011/11/17/sudut-pandang-pengarang-cerpen-novel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c1a5524bf863d326dd2c23f20e05ef3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prastna</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
