Ragam Bahasa Jurnalistik Cetak dan Radio

Ragam Bahasa Jurnalistik Cetak

 Pengertian

Sebagai nomina kata ragam memiliki lima arti : tingkah, ulah; macam, jenis; lagu, musik, langgam; warna, corak; dan laras. Ragam yang berarti laras khusus dipakai dalam bahasa. Sebagai nomina kata laras memiliki dua arti : (tinggi rendah) nada; dan kesesuaian atau kesamaan (KBBI, 1990: 719-720)

Ragam bahasa oleh Nababan diartikan sebagai variasi bahasa, baik variasi bentuk maupun variasi maknanya. Poerwodarminto mengartikan ragam bahasa sebagai sedikit-sedikit yang terdapat dalam bahasa. Menurut Anton M. Moeliono, ragam bahasa sebagai variasi yang terdapat dalam bahasa. Menurut Slamet Soewandi, ragam bahasa adalah variasi (dalam) bahasa.

Sifat Umum Ragam Bahasa Jurnalistik

Perlu diketahui sebelumnya, bahwa yang membedakan ragam bahasa jurnalistik dengan ragam bahasa yang lain adalah dalam cara penggunaannya. Ragam bahasa jurnalistik digunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang dialami, diketahui, dan dipikirkan oleh sebagian besar orang ( Slamet Soewandi, 1996 ). Hal-hal itu berupa fakta ( berita ), pendapat (opini ), dan pemberitahuan.

Menurut H. Rosihan Anwar, sifat Ragam bahasa jurnalistik terdiri dari:

1. Menggunakan kalimat pendek

2.Menggunakakn bahasa biasa yang mudah dipahami orang

Bahasa adalah alat untuk menyampaikan cipta dan informasi. Bahasa diperlukan dalam komunikasi. Dalam suatu penulisan harus menggunakan bahasa yang betul-betul dapat dimengerti khalayak (audiens). Salah satunya penulis harus komunikatif.

3. Menggunakan bahasa sederhana dan jernih pengutaraannya

Khalayak media massa yaitu pembaca surat kabar, pendengar radio, penonton televisi terdiri dari aneka ragam manusia dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang berbeda-beda, dengan minat perhatian, daya tangkap, kebiasaan yang berbeda-beda pula. Maka penulis berusaha menulis sesederhana dan sejernih mungkin.

4. Menggunakan bahasa tanpa kalimat majemuk

Dengan menggunaan kalimat majemuk, pengutaraannya pikiran kita sering terpeleset menjadi berbelit-belit dan bertele-tele. Penulis sebaiknya menjauhkan diri dari kesibukan memakai kalimat majemuk karena bisa mengakibatkan tulisannya menjadi woolly alias tidak terang.

5.Mengunakan bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat pasif

Membuat berita menjadi hidup bergaya ialah sebuah persyaratan yang dituntut penulis atau wartawan. Pengunaan kalimat aktif lebih disukai jurnalistik daripada kalimat pasif karena dinggap lebih bergaya. Contoh: : Si Amat dipukul babak belur oleh si Polan”. Dari pada kalimat “ Si Polan memukul si Amat babak belur”.

6. Menggunakan bahasa padat dan kuat

Penulis atau wartawan muda seringkali suka terhanyut menulis dengan mengulangi makna yang sama dalam bebagai kata. Kata-kata yang dipakai seharusnya efisien dan seperlunya saja. kembang-kembang bahsa harus dihindarkan. Bahasa jurnalistik harus hemat dengan kata-kata.

7. Menggunakan bahasa positif, bukan bahasa negative

Penulis di dalam menulis, sedapat mungkin menulis dalam bentuk kalimat positif karena kalimat positif dianggap lebih sopan daripada kalimat negatif. Contoh: “ Wartawan Sondang Meliala tidak menghendaki penataran wartawan olahraga”. Dengan kalimat “ Wartawan Sondang Meliala menolak penataran wartawan olahraga”. Kalimat kedua lebih bersifat positif dibanding dengan perkataan “ tidak menghendaki”, karena “ tidak” bersifat negatif.

Menurut Slamet Soewandi, secara umum wacana dengan ragam bahasa jurnalistik memiliki ciri:

1. Singkat

Singkat adalah penuturan yang tidak berpanjang-panjangan, bertele-tele

2. Padat

Padat adalah mengacu pada arti syarat isinya

3. Sederhana

Sederhana adalah tidak berbelit-belit

4. Lancar

Lancar adalah penuturan yang tidak tersendat-sendat, melainkan mengalir dengan enak.

5. Jelas

Jelas adalah penuturan yang tidak menimbulkan salah tafsir .

6. Lugas

Lugas adalah tidak mengada-ada.

7. Menarik

Menarik adalah pemberitaan yang membuat pembaca, pendengar atau penonton bosan, atau mengerutkan dahi karena masalahnya berat.

8. Baku

Baku adalah penulisan kata dan kalimat, pemilihan dan pembentukan kata, pemilihan danpembentukan kalimat, pemilihan dan pembentukan paragraph menurut kaidah yang berlaku.

9. Netral

Netral adalah tidak berpihak atau membedakan tingkatan, jabatan atau kedudukan orang.

Menurut Kunjana Rahardi ragam bahasa jurnalistik yaitu:

1. Komunikatif

Bahasa jurnalistik tidak berbelit-belit, tidak membunga-bunga, tetapi harus langsung terus langsung pada pokok permasalahannya ( straight to the point). Bahasa jurnalistik harus lugas, sederhana, tepat diksinya dan menarik sifatnya. Dengan demikian bahasanya akan menjadi komunikatif, tidak menimbulkan salah paham dan menimbulkan tafsir ganda.

2. Spesifik

Bahasa jurnalistik harus disusun dengan kalimat-kalimat yang singkat-singkat dan pendek-pendek. Bentuk kebahasaannya sederhana dan mudah diketahui oleh banyak orang, gampang dimengerti oleh orang awam. Kata-katanya hendaknya bersifat denotative maknanya, sehingga tidak dimungkinkan ada salah tafsir makna yang ganda.

3. Hemat kata

Kebahasaan yang dipakai dalam bahasa jurnalistik hendaknya bercirikan minim karakter kata atau sedikit jumlah huruf-hurufnya. Kalimat-kalimat jurnalistik dibuat simple dan sederhana serta tidak menumpuk-nimpuk gagasannya.

4. Jelas makna

Bahasa jurnalistik sedapat mungkin digunakan kata-kata yang bermakna denotatif, kata-kata yang mengandung makna sebenarnya, bukan kata-kata yang bermakna konotatif, kata-kata yang maknanya tidak langsung, kata, kata yang bermakna kiasan.

5. Tidak mubazir dan tidak klise

Bentuk mubazir pada kata atau frasa yng sebenarnya dapat dihilangkan dari kalimat yang menjadi wadahnya, dan peniadaan kata-kata tersebut tidak mengubah arti/maknanya. Kata-kata klise atau stereotype ialah kata-kata yang berciri memenatkan, melelahkan, membosankan, terus hanya begitu-begitu saja, tidak ada inovasi, tidak ada variasi.

  Ragam Bahasa Jurnalistik Radio

Salah satu alat komunikasi yang akrab dengan kita adalah radio. Perbedaan mendasar antara radio dan media cetak adalah dalam hal cara penyampaian pesannya. Media cetak lebih menitikberatkan pada penyampaian pesan melalui cetakan ( video ), sedangkan radio melalui pendengaran ( audio ).

Secara garis besar sebenarnya ragam bahasa radio hampir sama dengan ragam bahasa dalam media cetak. Tetapi, radio memiliki suatu gaya tersendiri. Gaya radio sendiri, menurut Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A, disebabkan oleh dua faktor :

1. Sifat radio siaran

Sifat radio siaran adalah auditif, untuk didengar. Karena hanya untuk didengar, maka isi siaran yang sampai ke telinga pendengar hanya sepintas lalu saja

2. Sifat pendengar radio

Pendengar adalah sasaran komunikasi massa media radio. Komunikasi dapat dikatakan efektif , apabila pendengar terpikat perhatiannya, tertarik terus minatnya, mengerti, tergerak hatinya dan melakukan kegiatan apa yang diinginkan si pembicara ( Onong Uchayana Effendy, 1978 ).

 Ciri Jurnalistik Radio

Berdasarkan karakteristik jurnalistik radio yang dipengaruhi faktor siaran dan pendengar, maka radio memiliki ciri khas sebagai berikut :

1. Tidak mengenal ” kebenaran reserve

Hal tersebut memiliki maksud bahwa berita dalam radio itu harus mengandung kebenaran yang tepat dan akurat. Hal ini mutlak karena sekali berita itu disiarkan, tidak mungkin diralat. Kalaupun dapat, perlu diingat sifat radio itu sendiri.

Pendengar mungkin hanya mendengar ralatnya saja, tanpa pernah mendengar apa yang diralat. Atau kebalikannya, pendengar tidak mendengar ralatnya, sehingga berita salah yang diralat dianggap suatu kebenaran.

2. Obyektif

Suatu berita yang obyektif tentunya tidak memihak, tidak cacat, dan tidak diwarnai maksud-maksud tertentu. Sehingga hendaknya berita dalam diberikan sebagaimana adanya, tanpa maksud, dan tujuan tertentu.

3. Bersusila

Radio ditujukan kepada semua pendengar dengan tidak memandang status sosialnya ( khususnya program berita ). Telah disinggung berulangkali bahwa radio bersifat auditif. Karena sifat radio itu sendiri dan keragaman status sosial pendengarnya, hal ini tentu akan membawa imajinasi yang berbeda pada setiap pendengarnya. Oleh sebab itu, hendaknya kesopanan dalam penuturan perlu dijaga.

 Ciri Bahasa Jurnalistik Radio

Secara garis besar, bahasa jurnalistik radio dan jurnalistik cetak tidak jauh berbeda. Radio menekankan penyampaian pesan secara audio, maka bahasa yang digunakan tentunya disusun dan diatur sedemikian rupa sehingga dapat menyampaikan pesan secara tepat kepada pendengarnya. Menurut Onong Uchajana Effendy ( 1978 : 91 ), ciri bahasa radio adalah :

  1. Menggunakan kata-kata yang sederhana.
  2. Menggunakan kata-kata yang lazim dipakai masyarakat.
  3. Menggunakan kata-kata yang sopan.
  4. Menggunakan susunan kalimat yang rapih.
  5. Menggunakan susunan kalimat yang logis
  6. Bahasanya jelas.

 

Daftar Pustaka

Anwar, H. Rosihan, 2004. Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi. Yogyakarta : Media Abadi.

Effendy, Onong Uchjana. 1978. Radio Siaran: Teori dan Praktek. Bandung : Penerbit Alumni.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. DepDikBud : Balai Pustaka.

Kunjana Rahardi, R. 2006. Asyik Berbahasa Jurnalistik: Kalimat Jurnalistik dan Temali Masalahnya. Yogyakarta : Santusta.

Nababan. 1991. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Slamet Soewandi, A.M. 1996. “Ragam Bahasa Jurnalistik: Apa, Mengapa, Di mana?” dalam Romo Kadarman: Kenangan dan Persembahan. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s